Ali disisi Rasulullah Seperti Musa dg Harun hanya Tak ada Nabi Lagi Setelahnya

10 November 2010

KENABIAN V (M. Mizbah Yazdi)

 

PELAJARAN 25

Argumentasi atas Kemaksuman Para Nabi

Mukadimah
Meyakini kemaksuman para nabi dari maksiat dan dosa, yang disengaja atau tidak, merupakan keyakinan yang pasti dan populer di kalangan Syi'ah Imamiyah yang telah diajarkan oleh para imam suci kepada syi'ah (pengikut setia) mereka. Mengenai masalah ini, mereka terlibat dalam dialog dengan orang-orang yang menentang mereka melalui berbagai macam metode. Di antaranya, dialog yang dilakukan oleh Imam Ridha as yang disebutkan dalam buku-buku hadis dan sejarah. Akan tetapi, ada perbedaan mengenai mungkinnya kealpaan dan kelupaan pada diri para nabi as dalam hal-hal yang sifatnya mubah. Bahkan secara zahir, riwayat-riwayat yang dinukil dari Ahlulbait as itu pun tidak lepas dari pertentangan. Pembahasan mengenai hal ini memerlukan luang yang lebih luas lagi. Yang jelas, hal itu tidak mungkin dianggap sebagai keyakinan yang prinsipal.
Dalil-dalil atas kemaksuman dapat dibagi menjadi dua kelompok; dalil akal dan dalil wahyu. Walaupun menggunakan dalil kedua lebih banyak daripada dalil pertama, di sini kami hanya akan menjelaskan dua dalil pertama saja. Kemudian setelah itu kami akan menyebutkan dalil-dalil wahyu dari Al-Qur'an.
Dalil Akal atas Kemaksuman Para Nabi
Dalil akal yang pertama atas keterjagaan para Nabi dari maksiat ialah bahwa tujuan utama diutusnya para nabi itu ialah untuk memberikan petunjuk kepada seluruh umat manusia dan membimbing mereka kepada hakikat kebenaran dan tugas-tugas yang telah ditentukan oleh Allah SWT ke atas mereka. Pada hakikatnya, para nabi itu merupakan duta-duta Tuhan untuk seluruh umat manusia. Mereka mempunyai tugas untuk memberikan hidayah kepada jalan yang lurus. Apabila mereka sendiri tidak konsisten dengan ajaran Ilahi, atau bahkan mengamalkan yang sebaliknya; yang menyalahi kandungan risalah yang mereka emban, atau menyalahi ucapan yang mereka katakan dan pesan yang mereka berikan, pasti umat manusia akan menilai bahwa perbuatan mereka tersebut sebagai penjelasan yang menyalahi ucapan mereka sendiri. Dengan demikian, seorang pun tidak akan percaya lagi kepada ucapan mereka. Akibatnya, tidak akan terealisasi secara sempurna tujuan diutusnya mereka.


Karenanya, hikmah dan rahmat Ilahi itu menuntut bahwa para nabi itu harus maksum dan suci dari berbagai dosa. Bahkan tidak akan keluar perbuatan yang tidak baik dari diri mereka, sekalipun dalam bentuk lalai atau pun kelupaan, supaya umat manusia tidak berasumsi bahwa mereka menjadikan pengakuan lalai dan lupa sebagai alasan untuk melakukan dosa dan maksiat.
Dalil akal yang kedua atas kemaksuman para nabi adalah bahwa di samping ditugaskan untuk menyampaikan kandungan wahyu dan risalah kepada umat manusia dan memberikan petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus, para nabi juga ditugaskan untuk mendidik dan membersihan jiwa mereka, dan mengantarkan individu-individu yang mempunyai potensi kepada peringkat yang terakhir dari peringkat kesempurnaan insani.
Artinya, di samping memberikan pengajaran dan tuntunan kepada umat manusia, para nabi juga mempunyai tugas penting lainnya, yaitu memimpin dan mendidik mereka secara menyeluruh, sekalipun mereka termasuk orang-orang yang berpotensi dan terpandang di masyarakat. Dan kedudukan yang tinggi ini tidak mungkin dapat dicapai kecuali oleh orang-orang yang telah mencapai derajat kesempurnaan insani dan yang memiliki lebih banyak karakter kesempurnaan, yaitu karakter kemaksuman. Selain itu, peran sikap dan perilaku seorang pendidik itu lebih berpengaruh daripada ucapannya dalam proses pembinaan. Jika ditemukan berbagai kekurangan dan kesalahan pada perbuatannya, ucapannya itu pasti tidak lagi berarti.
Dengan demikian, tujuan Ilahi dari diutusnya para nabi—sebagai penuntun dan pendidik umat manusia—hanya bisa terealisasi secara penuh apabila mereka itu maksum dan terpelihara dari berbagai macam maksiat, kesalahan, dan penyelewengan, baik dalam ucapan maupun perbuatan mereka.
Dalil Wahyu atas Kemaksuman Para Nabi
Pertama, Al-Qur'an menggunakan istilah al-mukhlas pada sebagian individu ketika mereka tidak tersentuh oleh bujuk-rayu setan. Dari sinilah setan bersumpah untuk menyesatkan seluruh Bani Adam, kecuali mereka yang mukhlas, sebagaimana terdapat dalam firman-Nya:
"Maka dengan keagungan-Mu aku akan berusaha sekuat tenaga untuk meyesatkan seluruh umat manusia kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas." (QS. Shad: 82-83)
Tidak diragukan lagi bahwa sebab putus asanya setan dari menyesatkan orang-orang yang mukhlas itu karena mereka suci dan terjaga dari dosa dan maksiat. Kalau tidak demikian, musuh-musuh mereka itu tentu akan dapat menggoda mereka dan penyesatan setan dapat menyentuh mereka. Dan jika mereka pun bisa disesatkan, setan tidak akan membiarkan mereka sedetik pun. Oleh karena itu, arti al-mukhlash itu identik dengan arti al-ma'shum. Walaupun tidak dijumpai argumen yang menunjukan kekhususan sifat mukhlas ini bagi para nabi, akan tetapi tidak diragukan lagi bahwa sifat ini disandang oleh mereka. Al-Qur'an telah memberikan penilaian atas sebagian para nabi dengan sifat al-mukhlasin:
"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim Ishak dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan manusia akan akhirat." (QS. Shad: 45-46).
“Dan ceritakanlah kisah Musa di dalam al-Kitab (Al-Qur'an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang mukhlas dan seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 51).
Begitu pula ihwal disucikannya Nabi Yusuf as dari peyelewengan ketika beliau berada pada kondisi yang sangat sulit, karena beliau adalah hamba Allah yang mukhlas. "Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba-Ku yang mukhlas." (QS. Yusuf: 4).

PELAJARAN 26

Beberapa Keraguan dan Jawaban

Ada beberapa keraguan yang pernah dilontarkan sehubungan dengan masalah kemaksuman para nabi. Hal itu akan kami paparkan di sini berikut jawabannya.
Keraguan Pertama
Apabila Allah SWT telah menjaga para nabi dan mensucikan mereka dari perbuatan maksiat, dimana hal itu berarti Dia telah menjamin perbuatan mereka dari kesalahan dalam menjalankan tugas-tugas, maka sedikit pun tidak ada keistimewaan pada kehendak dan usaha bebas mereka. Dan mereka tidak berhak memperoleh ganjaran Allah SWT atas amal dan tugas-tugas yang mereka lakukan dan perbuatan maksiat yang mereka tinggalkan tersebut. Karena, jika Allah menjadikan maksum siapa saja yang Dia kehendaki, orang itu pasti akan sama seperti para nabi. Karena Allahlah yang menganugerahkan kemaksuman tersebut kepadanya.
Jawab: secara ringkas, kemaksuman itu tidak berarti keterpaksaan dalam melakukan suatu tugas atau meninggalkan suatu maksiat, sebagaimana telah kami jelaskan pada pelajaran yang telah lalu. Ketika kami katakan bahwa Allah SWT itu menjaga para nabi dari perbuatan dosa dan maksiat, hal ini tidak berarti menafikan penisbahan kehendak dan usaha bebas kepada mereka, sebab setiap fenomena dan kejadian disandarkan—pada akhir mata rantainya—kepada kehendak cipta Allah SWT (iradah takwiniyah Ilahiyah) sebagaimana yang telah dijelaskan pada prinsip Tauhid, yang di dalamnya terdapat bantuan dan pertolongan khusus dari-Nya, oleh karena itu sangat ditekankan bahwa segenap perbuatan itu disandarkan kepada Allah. Akan tetapi, kehendak Allah sebagai perpanjangan dari kehendak manusia tidaklah sejajar dan tidak pula saling mengambil alih posisi.
Adapun bantuan khusus Allah kepada para imam tak ubahnya dengan sarana perlengkapan khusus yang diberikan kepada orang-orang tertentu, yang menjadikan tanggung jawab mereka itu lebih besar dan lebih berat. Sebagaimana pahala atas perbuatan mereka itu dilipatgandakan, siksa mereka akan lebih keras apabila berbuat dosa. Dengan demikian, menjadi seimbanglah antara ganjaran dan siksa. Dan manusia yang maksum, lantaran usaha baiknya, tidak berhak menerima siksa dari Allah SWT.
Kita perhatikan pula bahwa keseimbangan ini terdapat pula pada setiap orang yang dianugerahi nikmat tertentu, sebagaimana hal ini terjadi pada ulama dan orang-orang yang mengikuti Ahlulbait as. Maka, tanggung jawab mereka itu pasti lebih besar dan lebih beresiko dibandingkan dengan yang lainnya. Lain dari itu, sebagaimana ganjaran dan pahala atas amal perbuatan mereka itu lebih banyak, tentu siksanya lebih keras jika mereka berbuat dosa.
Oleh karena itu, dapat kita pahami bahwa setiap orang yang derajat maknawinya lebih tinggi, ancaman jatuhnya pun akan lebih besar, dan rasa takutnya dari ketergelinciran menjadi lebih banyak.
Keraguan Kedua
Sesungguhnya para nabi dan imam as menganggap diri mereka itu berbuat dosa, sebagaimana hal ini terungkap di dalam munajat dan doa-doa mereka, juga dinukil tentang adanya ungkapan istighfar mereka atas dosa-dosa. Dari pengakuan terbuka mereka sendiri, bagaimana mungkin kita menganggap mereka itu adalah orang-orang yang maksum?
Jawab: para imam maksum as itu telah mencapai derajat kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah SWT dengan tidak mengabaikan perbedaan dalam peringkat mereka masing-masing. Karenanya, mereka merasakan bahwa mereka itu dibebani dengan tugas-tugas yang sangat penting yang melebihi tugas-tugas orang lain. Bahkan mereka menganggap bahwa sedikit saja perhatian mereka tertuju kepada selain Allah dan Kekasih mereka, mereka memandangnya sebagai dosa yang besar. Oleh karena itu, mereka mengucapkan istighfar dan mohon ampun kepada Allah SWT.
Telah kami jelaskan pada pelajaran sebelumnya, bahwa kemaksuman para nabi itu tidak berarti bahwa manusia maksum itu suci dari seluruh perbuatan yang diistilahkan dengan maksiat dalam pengertian yang luas. Akan tetapi, yang dimaksud dengan kemaksuman ialah bersih dari perbuatan yang menyalahi tugas yang diwajibkan kepadanya, dan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan menurut fiqih, bukan bersih dari seluruh maksiat secara mutlak.
Keraguan Ketiga
Sebagian ayat Al-Qur'an menjelaskan kemaksuman para nabi dan mereka dianggap sebagai orang-orang yang mukhlasin sehingga setan tidak mungkin dapat menggoda mereka sedikit pun. Akan tetapi di sisi lain, Al-Qur'an sendiri menyebutkan terjadinya pengaruh setan-setan pada diri mereka sebagaimana disebutkan dalam surah Al-A'raf, “Wahai Bani Adam, jangan sampai kalian dapat difitnah oleh setan sebagaimana dia dapat mengeluarkan ayah ibumu (Adam dan Hawa) dari surga.” (QS. Al-A'raf: 27)
Ayat ini menjelaskan terjadinya tipu daya setan kepada Adam dan Hawa sehingga keduanya itu dikeluarkan dari surga.
Di dalam surah Shad ayat 41, Allah SWT berfirman (atas ucapan Ayub as), "Ketika dia (Ayub) menyeru kepada Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku diganggu oleh setan dengan kepayahan dan siksaan.’”
Pada ayat yang lain, Allah SWT berfirman, "Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, setanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginannya itu." (QS. Al-Hajj: 52)
Ayat-ayat tersebut di atas menjelaskan adanya gangguan setan pada seluruh Nabi.
Jawab: di dalam ayat-ayat tersebut tidak tampak pengaruh dan godaan setan yang mengakibatkan para nabi itu melanggar tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Adapun ayat 27 dari surat Al-A'raf yang menjelaskan godaan setan kepada Adam dan Hawa untuk memakan pohon yang terlarang, tidak ada kaitannya dengan larangan "haram" memakan buah tersebut. Akan tetapi, larangan itu hanya merupakan peringatan kepada Adam dan Hawa bahwa apabila mereka memakan buah tersebut, mereka akan dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke muka bumi. Dan godaan setan dalam ayat tersebut hanya menjelaskan pelanggaran Adam dan Hawa terhadap anjuran akal (irsyadi). Dan perlu diketahui bahwa alam tersebut bukan alam pembebanan syariat, karena ketika itu syariat belum diturunkan sama sekali.

Tidak ada komentar: