Ali disisi Rasulullah Seperti Musa dg Harun hanya Tak ada Nabi Lagi Setelahnya

29 November 2010

Debaran Penantian

Diantara gulungan ombak, lipatan badai, 
Dzkir Awan, Mentari, Beburung, Pepohon, yang kian bertalu
Antara Tawa & Air Mata
Diantara Gelimang Harta, dan Rasa Lapar
atau Istana Congkak, dan derita  kolong langit



itulah tanda
Diantara dua dunia
yang menanti mu dan yang tidak

Wahai Kesempurnaan
Ijinkan ku, sekali saja mencium  kerinduan
rindu yang kadang tak tertahankan
Melintas, dan berbayang
apakah karena derita yg blum berujung atau karena kerinduan akan mu itu sendiri

Dalam Jiwa ini, seakan kian merasakan bahwa engkau kian mendekat
Semerbak keharuman mu terasa dari abad ke abad
tentang janji mu,.. yang akan menjumpa
mereka yang berpilu tangis menanti mu
diantara lapar, dan haus, atau diantara darah dan air mata atau diantara harapan yang terus tercampakkan
diantara bangunan peradaban yang menghinakan
atau diantara peradaban yang menggelapkan, 

Wahai Yang Dinanti
Wahai Fajar Harapan
Wahai Pedang Keadilan

Andai saja,.... Andai saja,... Andai Saja,...
Diantara kerinduan dan rasa malu
Memperbaharui bai'ah dengan mu
keinginan tuk membelamu diantara kekotoran ku
tuk menjadi bagian perubahan
seakan kumerasakan desingan peluru dan kilatan pedang
khotbah membakar setiap jiwa 
yang tidur, terlena, kemudian bangun, tegak, berdiri, berlari mencapai mu dan angkat senjata

ketika air mata menjadi lautan sambutan dan seruanmu
labayk ya Muntazhar
betapa seakan2 kumerasakan kerinduan itu wahai pedang keadilan


Kan kuadukan kepadamu kegagalanku, menanti mu
Sebuah cinta yang tak sempurna,....

Kubentang rindu dalam harapan
Dikesunyian dan lolongan malam

Tidak ada komentar: