Ali disisi Rasulullah Seperti Musa dg Harun hanya Tak ada Nabi Lagi Setelahnya
07 Juni 2011
29 Januari 2011
Membaca Ali Shari'ati
19 November 2010
14 November 2010
WISDOMS FROM IMAM ALI BIN ABI THALIB
Iman, Kafir, Ragu, dan Dukungannya
13 November 2010
TAKDIR MANUSIA BAG.I OLEH MURTHADA MUTHAHHARI
23 Januari 2009
Mempertanyakan Kesahihan Putusan Pengadilan atas Kasus Devit dan Kemat
Diskusi semalam di ANTV semalam 7/12/2008 tentang kesalahan putusan pengadilan yaitu terhadap Devit dan Kemat yang disangkakan membunuh Asrori yang ternyata pembunuhnya adalah Ryan.
Nasib Devit dan Kemat harus menjalani hukuman satu tahun lebih didalam penjara akibat kerja pihak kepolisian, kejaksaan dan pihak pengadilan yang gegabah serta memaksakan perkara yang prematur. Mendengarkan pengakuan Devit dan Kemat, bagaimana mereka menjalani proses hukum yang dipaksakan tersebut. Aparat Hukum negeri ini baik Kepolisian maupun Kejaksaan belumlah menjalankan fungsinya secara baik dan Profesional. Devit dan Kemat dipaksa untuk mengakui pembunuhan diladang tebu yang tidak mereka lakukan.
Rangkaian teror, kekerasan dan todongan senjata masih alat utama pihak kepolisian dalam memeriksa terdakwa dan memaksa korban (Devit dan Kemat) untuk mengakui pembunuhan tersebut.
Alat bukti sebilah pisau dapur yang didapat polisi di dapur milik Devit dipaksakan sebagai alat bukti yang kemudian dijadikan alat bukti dipersidangan oleh pihak kejaksaan.
Yang menarik bagi saya dalam diskusi di ANTV dimana pihak kepolisian yang diwakili oleh statement Susno Duadji yang tampaknya mengarah menyalahkan pihak kejaksaan dan pengadilan yang dianggap ngotot melanjutkan persidangan. Namun yang membuat saya tergelitik membuat tulisan ini adalah statement dari M.Jasman Panjaitan Kapuspenkum Kejaksaan Agung. M. Jasman Panjaitan menyatakan bahwa dalam kasus salah tangkap yang mengorbankan Devit dan Kemat, Kejaksaan Agung mengatakan bahwa kebenaran formil yang dapat diadili sedangkan kebenaran materil atau kebenaran sesungguhnya hanya berada pada tuhan.
Bila kemudian formil yang dibawa ke meja persidangan tidak ada korelasinya sama sekali dengan kebenaran materil, kita kemudian berhak ragu terhadap segala bukti dan tuntutan yang dibawa di muka persidangan yang berjalan selama ini di republik ini. Bahkan juga segala keputusan hukum pengadilan selama ini.
Bagaimanakah proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh aparat hukum dalam mencari bukti2 hingga mereka berkeyakinan bahwa bahwa segala fakta hukum telah mengarah kepada terdakwa?
Yang kemudian hal tersebut diajukan di muka persidangan.
Proses hukum dalam mencari kebenaran kemudian hanyalah hal yang sia-sia bila kita melihat dari kasus salah tangkap ini, pihak kepolisian dan kejaksaan dalam menjalankan tugasnya yang tidak profesional, mengorbankan bahkan mencari korban orang yang tidak bersalah guna proses pengadilan.
Sejatinya, pengadilan menjadi muara akhir bagi pihak2 mencari keadilan, bukan justru menjadi tirani hukum yang sering kali ini menimpa bagi orang kecil dan lemah yang tidak mampu membayar pengacara. Akibatnya sering kali hukum lebih mencari mangsa dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah demi sebuah prestasi kerja.
Marilah kita sudahi segala dagelan, sinetron, pertunjukan dan drama yang selalu menyakitkan dan mengorbankan rakyat. Untuk itu segala aparat hukum baik itu kepolisian, kejaksaan dan pengadilan untuk berbenah dari kasus ini. Menjadikan kasus ini untuk pihak2 tersebut lebih profesional dalam mengusut permasalahan hukum dimasyarakat.
Mudah2an Kasus salah tangkap dan salah vonis di negeri ini tinggal hanya ini saja kita tidak berharap kasus serupa kembali terjadi, dimana hal ini pasti saja akan menimpa kepada mereka yang tidak memiliki akses terhadap pembelaan.
10 Januari 2009
Tidak Ikut Tes CPNS, tapi Lulus
Sriwijaya Post - 9/1/2009 13:35 WIB
BANDAR LAMPUNG, JUMAT — Warga meminta polisi mengusut dugaan lulusnya seorang peserta tes calon pegawai negeri sipil daerah (CPNSD) untuk Kabupaten Way Kanan, Lampung. Padahal, peserta itu tidak mengikuti tes karena sedang menunaikan ibadah haji.
"Kalau membaca berita di media massa, peserta itu berangkat ke Jeddah tanggal 28 November 2008, sedangkan tes CPNSD tanggal 30 November 2008," kata salah seorang peserta tes CPNSD di Lampung, Ferry, di Bandar Lampung, Jumat (9/1).
Oleh karena itu, lanjut dia, jika data itu benar, maka polisi harus masuk untuk menyidik siapa yang "bermain" di sana.
"Polisi harus menyidik apakah si peserta yang tanpa tes tapi lulus yang melakukan pelanggaran, atau ada pihak lain yang bermain," katanya.
Peserta tes CPNSD lainnya yang tidak lulus pun meminta aparat segera bertindak untuk mencari kebenaran hal itu. "Sebenarnya kami sudah tahu dalam setiap penerimaan CPNSD ada permainan, tetapi karena kami mencoba mengadu nasib di era sulitnya mencari pekerjaan ini, tetap dicoba. Akhirnya, yang punya koneksi yang lulus," kata salah seorang peserta tes.
Berita lulusnya GF untuk formasi pranata humas Kabupaten Way Kanan, menjadi perbincangan hangat di kalangan warga, khususnya mereka yang sedang mencari kerja termasuk ikut mengadu nasib pada tes CPNSD.
Sementara itu, data yang mendukung GF tidak mengikuti tes yakni dari Kanwil Depag Provinsi Lampung, ia terdaftar sebagai jemaah haji yang diberangkatkan tanggal 28 November 2008. Sedangkan tes tertulis CPNSD tanggal 30 November 2008.
Informasi lainnya, di Kabupaten Way Kanan pada tes CPNSD guru salah satu bidang studi, yang mendaftar empat orang, yang ikut tes hanya tiga orang dan ketika pengumuman yang lulus empat orang.
"Kami sedang mencari kebenaran itu, karena sudah menjadi wacana di Way Kanan," ujar seorang sumber yang juga enggan disebutkan identitasnya.
04 Januari 2009
Hapus Israel dari Peta Dunia (Mahmud Ahmadinejad)
21 Desember 2008
Biografi Singkat Ali Shariaati
Dr.. Ali Shariati lahir di Mazinan, dipinggiran kota Mashad, Iran. Beliau menyelesaikan sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah di Mashad. Pada masa2 tersebut dalam bimbingan guru2nya, dia berinteraksi dengan pemuda masyarakat miskin dan merasakan kemiskinan dan berjuang keras bertahan didalamnya.
Pada usia delapan belas tahun, beliau memulai menjadi pengajar ketika beliau masih menjadi pelajar. Setelah menyelesaikan sarjananya pada tahun 1960, dia mendapatkan bea siswa studi ke Perancis. Dan mendapatkan gelar Doktor di bidang Sosiologi tahun 1964 dari Universitas Sorbonne.
Setelah itu, beliau kembali ke Iran, ditangkap diperbatasan dan dipenjarakan akibat partisipasinya pada perhelatan aktivitas politik ketika belajar di Perancis. Selepasnya pada dari penjara tahun 1965, beliau mulai mengajar di Universitas Mashad. Sebagai sosiolog muslim, beliau menggali jawaban atas permasalahan pada masyarakat muslim, menjelaskan prinsip2 cahaya keislaman dan mendiskusikannya kepada mahasiswanya. Dengan sangat cepat beliau menjadi populer diantara mahasiswanya dan klas sosial yang lain di Iran. Atas alasan inilah, Rezim ketika itu harus menghentikan kegiatan mengajarnya di Universitas.
Kemudian beliau pindah ke Teheran. Disini, Dr. Shariati melanjutkan karir dan aktivitas briliannya. Pengajarannya pada Institusi Keagamaan Husainiyah Irshad tidak hanya dipenuhi lebih dari 6.000 mahasiswa yang mendaftar pada kelas musim panas, tetapi juga didatangi oleh ribuan orang dari latar belakang yang berbeda yang terpukau terhadap apa yang diajarkannya.
Edisi pertama dari bukunya habis lebih dari 60.000 kopi yang terjual dengan sangat cepat. Walaupun penyebaran buku tersebut dihalang-halangi oleh Pemerintah Iran.
Dalam menghadapi kesuksesan penyebaran ajaran Dr. Shariati, Polisi Iran mengepung Institut Husayniyah Irshad, menangkapi banyak pengikutnya dan menghentikan aktivitasnya. Dan untuk kedua kalinya beliau mendekam di penjara selama 18 bulan dan mengalami kekerasan didalamnya dalam kondisi mengenaskan.
Akibat dari tekanan dan protes dari rakyat dan internasional membuat rezim Iran pada waktu itu melepaskannya pada 20 Maret 1975. Namun, kebebasannya ini tetap dibawah pengawasan agen rahasia Rezim Iran. Dia hampir kehilangan kebebasannya sama sekali, dia tidak dapat mempublikasikan pemikirannya atau berhubungan dengan mahasiswanya. Gerah terhadap hal ini, demi mengajarkan Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saww, beliau sadar bahwa harus hijrah keluar dari negaranya. Kemudian beliau berhasil masuk ke Inggris, setelah tiga minggu di negara tersebut yaitu pada tanggal 19 Juni 1977 beliau dibunuh oleh SAVAK agen rahasia Iran.
Dr. Shariati banyak mengajarkan dan memberikan pengalaman filosofis, teologis dan madrasah pemikiran bagi dunia islam. Satu mungkin yang mampu dikatakan, beliau adalah seorang muhajir yang datang sebagai bunga mawar yang muncul dari kedalaman mistisme timur. Kemudian terbang tinggi dahsyat menuju pegunungan pada ilmu sosial barat, dia tidak tergagap didalamnya, kemudian kembali kepangkuan kita dengan segala permata dalam pelayarannya yang menakjubkan.
Beliau juga bukan seorang reaksioner fanatis yang menentang segala sesuatu yang baru tanpa sesuatu pengetahuan didalamnya tidak juga dapat disebut sebagai intelektual barat yang mengimitasi barat tanpa penilaian yang murni dan independen.
Pengetahuannya tentang kondisi dan gerakan dimasanya, beliau memulainya dengan membangkitkan islam melalui pencerahan massa, khususnya pemuda. Dia percaya terhadap elemen masyarakat ini memiliki keyakinan yang benar, dan mereka harus memdedikasikan diri mereka dan menjadi aktivis dan elemen mujahid yang akan memberikan segalanya yang apa yang mereka miliki dari idealismenya.
Dr. Shariati berjuang secara langsung untuk menciptakan nilai2 kemanusiaan pada generasi muda, yaitu suatu generasi yang generasi muda yang nilai2 nya telah dihancurkan melalui suatu metode dan teknik ilmiah. Beliau sangat kokoh menterjemahkan kembali al Quran dan Sejarah Islam kepada generasi muda sehingga generasi muda mampu menemukan kembali kebenarannya di seluruh dimensi kehidupan manusia dan melawan segala gerakan dekadensi masyarakat.
Dr. Shariati menulis begitu banyak buku , di dalam tulisan-tulisannya beliau menghadirkan penggambaran islam yang terang dan asli. Beliau berkeyakinan teguh bahwa jika intelektual dan geneerasi muda sadar kebenaran dan keyakinannya, segala upaya perubahan sosial dapat berhasil dengan sukses.
(diterjemahkan dari www.shariati.com)
28 Oktober 2008
Terima Kasih Untuk Ibu di Seluruh Dunia
27 Oktober 2008, kurang lebih pukul 20.00 Wib, Lahir lah kedunia seorang laki-laki dengan berat 3,2 Kg dan panjang 49cm.
Bagi orang tua pada umumnya kelahiran seorang anaknya adalah kebahagiaan yang sangat mengharukan. Apa lagi bila sempat menemani sang istri berjuang dalam persalinan.
Sebagai seorang manusia walaupun telah menjadi orang tua, saya masih merupakan anak bagi kedua orang tua saya yang saat ini alhamdulillah masih dalam keadaaan bugar dan sehat wal-alfiat.
Saat saya menemani Istri saya yang kelahiran kedua ini, istri saya harus berjuang keras dalam kesakitan. Maklum untuk kelahiran anak kami yang kedua ini, istri saya harus di induksi karena air ketuban telah pecah dari rahimnya sehingga sang bayi dirangsang untuk keluar dengan segera konsekuensi nya adalah istri saya harus merasakan kesakitan lebih luar biasa dari kelahiran normal biasa. Peristiwa ini sangatlah mengharukan, sebagai seorang anak, saya melihat seorang ibu berjuang bahkan harus siap meregang nyawa demi sebuah cinta kepada manusia dan kemanusiaan.
Saat proses persalinan, saya mondar-mandir masuk dan keluar kembali ke kamar persalinan dengan sesekali saya menghisap dalam rokok, kemudian masuk kembali ke kamar persalinan. Rasa gugup, khawatir, cemas, takut bercampur baur menjadi satu. Membuat kondisi saya semakin tegang.
Menyaksikan persalinan itu, saya hanya bisa merasakan sakit yang diderita oleh istri saya hanya dari rintihan dan jeritannya yang sesekali meninggi. Air matanya tumpah, sesekali menggebuki dan memegangi tangan ku sekuat tenaganya.
Dalam peristiwa itu saya hanya bisa memberikan dukungan moral untuknya agar tetap kuat berjuang dan berzikir memohon pertolongan Allah Swt untuk alasan kelanjutan sebuah generasi manusia.
Karena tidak kuat dan tidak tega mendengar rintihan istriku yang kian menjadi-jadi hingga energi nya pun kian terkuras saya minta mama saya untuk menggantikan saya didalam mendampingi istri saya menyudahi jihad tersebar seorang ibu.
Kesadaran kemanusiaan saya saat itu muncul bagaimana perjuangan seluruh ibu dimuka bumi, bahkan terkadang harus merelakan nyawa nya sendiri untuk ditukar dengan menyelamatkan nyawa bayi manusia.
Apa lagi saya adalah orang yang tidak begitu sukses untuk dikatakan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Bahkan bisa dikatakan gagal, yang mungkin selalu menyakiti dan menghancurkan perasaannya atas tingkah laku dan perilaku saya yang tidak begitu baik.
Yang saya bayangkan adalah mama saya yang sudah masuk usia lanjut sekarang ini, dalam bayangan saya yang terjadi pada istri saya tersebut sama persis perihnya dalam melahirkan saya ketika itu. Dalam pekikan, rintihan, kesakitan yang tiada tara yang hasilnya membuahkan anak yang kurang baik seperti saya.
Hal yang sama juga terjadi pada semua ibu di muka bumi ini. Hingga Ibu menjadi begitu mulia untuk disakiti dan dikecewakan.
Rasa terima kasih mungkin akan saya ucapkan kepada para Ibu diseluruh dunia. Wahai para Ibu , syahadah dijalan tuhan, pejuang kemanusiaan yang paling tinggi. Terimalah rasa hormat dan terima kasih saya kepadamu. Kau telah semaikan perjuangan yang tanpa tanding bagi bumi ini beranak-pinak dan kelanjutan generasi yang dinamakan manusia.
Dan untuk mama ku tercinta, kau adalah pahlawan keluarga yang paling tinggi, telah melahirkan 6 orang anak yang semuanya telah menjadi dewasa. Sekarang aku makin memahami dan mengerti bagaimana dan betapa mulianya dirimu. Bagaimana kesakitan yang kau derita hanya untuk memastikan diriku hidup didunia ini. Kau tempuh jalan berat bahkan mungkin lebih berat dari perang badar bahkan epik perang terhebat didunia ini.
Dan hormat dan cintaku padamu,..
Istriku, mama, ibu mertua, dan seluruh ibu di dunia ini. Tetaplah berjuang dalam menjadi syahid bagi perjuangan terbesar bagi kemanusiaan dalam melahirkan generasi dunia sehingga dunia dipenuhi dengan manusia yang baik. Hingga bumi ini akan semakin baik indah.
Hormat cinta ku untuk mu para Ibu di seluruh dunia.
14 Oktober 2008
Kapitalisme Mengamputasi Fungsi Negara Dengan Tangan Negara
Setelah runtuhnya Komunisme Sovyet, tampaknya tidak ada lagi musuh strategis Ideologi Kapitalisme yang cukup mumpuni, sehingga Ideologi ini praktis melenggang pada panggung kekuasaan sendirian. Teman taktis nya selama ini para diktator pun satu per satu ditumbangkan. Setelah Komunisme lumpuh maka Ideologi ini yang bertumpu pada demokrasi liberal dan pasar bebas melumpuhkan juga negara-2 Otoritarian dalam pandangannya. Satu persatu pun dilucuti seperti Taliban, Saddam Hussein.
Sehingga praktis sebagai pintu masuk meliberalkan pasar, pintu demokratisasi pun menjadi jalan bagi AS sebagai dalam menawarkan pasar bebas bagi negara yang masih tampak menjalankan kapitalisme setengah-setengah yaitu disatu sisi telah menerima pasar bebas tetapi masih alergi membuka pasar untuk komoditas politik seperti beras, minyak bumi dlsb, telekomunikasi, dlsb pengokoh kekuasaan penguasa diktator.
Para penggiat demokrasi baik itu penganut liberal dan penolak pasar bebas yang terdiri dari kaum intelektual bersama massa rakyat pun diadu vis a vis dengan negara sehingga pada berbagai negara termasuk Indonesia ini efektif menciptakan diktator sebagai musuh bersama civil society. Yang tanpa disadari harus kita akui kelompok kiri baru yang percaya dengan jalan sosialisme dan demokrasi setelah jatuhnya rejim diktator berakhir dengan kemenangan kaum Liberal dan terperangkap dalam laju kapitalisme yang lebih dalam.
Untuk kasus Indonesia, Suharto dalam posisi yang terjepit dalam krisis ekonomi dan prestasi buruknya dalam melayani rakyatnya (despotis, pelanggaran hak yang paling azazi), ini tentu saja dimanfaatkan oleh pemikir liberal dan kapitalis global untuk meliberalkan Indonesia melalui resep2 Paket Reformasi Ekonomi IMF sebagai bentuk barter bantuan keuangan untuk mengatasi Ekonomi yang sudah bangkrut tahun 98.
Nilai-nilai Demokrasi Liberal dan pasar bebas menurut penganut faham ini adalah transfer nilai tentang kebebasan individu dan Kepemilikan.
Tapi baiknya kita bedah thesis tersebut dengan cerita dibawah ini.
Walau tampak kelihatan alamiah, Integrasi Indonesia dalam pasar bebas mungkin dapat kita bedah seperti yang dijelaskan oleh David Harvey sangat terencana dan sistematis. David Harvey Menjelaskan Redistribusi asset negara menuju Global Private Sector melalui empat cara, yaitu:
1. Privatisasi dan Komodifikasi
Dalam model yang pertama negara diarahkan untuk membuka jalan bagi privatisasi yang selama ini menjadi miik publik menjadi milik swasta/korporatisasi yaitu fasilitas umum( air, transportasi dan telekomunikasi), Kemudian Jaminan Kesejahteraan Sosial (Pendidikan, Perumahan dan Pelayanan Kesehatan), dan Institusi Publik (Sekolah, Universitas, Pusat Penelitian, dan Penjara).
Hal ini berjalan dengan tampak seperti alamiah, dimana peran negara diamputasi atas hak-hak publik rakyatnya yang selanjutnya diserahkan kepada swasta untuk dikorporatkan dan dipatenkan. Ruang-ruang publik dan jaminan sosial publik tanpa terasa seiring berjalannya waktu semakin hilang dan kemudian harus diganti dengan harga yang mahal, tentu saja semua hal kemudian telah menjadi komoditas atau barang/jasa dagangan. Yang kemudian Produk penemuan yang vital bagi manusia pun dapat diambil oleh perusahaan dengan paten sehingga bahkan nyawa manusia orang sakit pun telah menjadi barang yang mahal untuk dijual, misalnya vaksin. Semua bidang kehidupan pun kemudian dijadikan komodifikasi baik itu, pikiran, budaya, agama,sejarah, seni, rasa, imajinasi, tangisan, senyum, gaya hidup, wisata, ruang publik diserobot menjadi milik korporat walaupun berhadap-hadapan dan bertentangan dengan kehendak umum, segala sesuatu kemudian harus dibayar dengan uang. Tentu saja pemindahan asset dan hak publik kepada tangan2 kapitalis untuk dijadikan bagi penumpukan uang dan pemindahan kepemilikan asset kepada kapitalis.
2. Finansialisasi berkaitan dengan deregulasi
Uang dari fungsi tradisionalnya sebagai alat tukar kemudian menjelma komoditas itu sendiri. Seiring dengan Institusionalisasi Pasar uang dan modal maka peran negara dalam mengatur assetnya diserahkan kepada sektor swasta.
Uang dan modal tidak lagi mencerminkan bagaimana hasil ekonomi dihasilkan dari perdagangan barang dan jasa dari sektor riil, tapi telah menjadi komoditas itu sendiri di pasar uang dan pasar modal.
Apalagi pasar uang dan pasar modal sama sekali tidak ada regulasi yang dapat mengatur perpindahannya saat ini. Dunia ketiga yang membutuhkan dana dalam melakukan gerak ekonominya sering kali jadi ajang spekulasi untuk merontokkan ekonomi suatu bangsa kemudian merampoknya secara brutal.
Belum lagi pasar modal dan pasar uang tempat berkumpulnya para spekulan yang penghasilannya diperoleh dari per transaksi uang dan modal. Tak peduli apakah rugi atau untuk spekulan tetap mendapatkan komisinya.
3. The Management and Manipulation Of Crisis
Ini adalah proses pemindahan kekayaan negara ketiga ke negara2 maju dengan memanfaatkan krisis hutang.
Negara ketiga adalah langganan bagi krisis akibat hutang. Krisis hutang yang terjadi berlanjut dengan krisis ekonomi yang lebih dalam sehingga sektor2 produksi lumpuh yang juga diikuti dengan krisis politik dan pergantian rejim. Seperti di Amerika Latin, Phillpina dan Indonesia. Tsunami ekonomi ini adalah pintu masuk bagi institusi keuangan pasar bebas dalam membarter bantuan likuiditas dengan resep2 pengalihan asset sektor publik kepada kapitalis dengan melelang asset2 yang selama ini menjadi milik publik untuk dilelang dengan harga murah melalui privatisasi. Melihat contoh Indonesia, Asset2 nasional yang dianggap tidak profitable dibekukan kemudian asset nasional strategis kemudian berpindah instant ketangan asing dengan cara obral dan brutal. Bahkan dalam catatan sejak tahun 1980 US$ 4,6 triliun asset negara dunia ketiga telah berpindah kepada negara negara maju.
4. Pengalihan Asset Nasional Dunia Ke Tiga Dilakukan Oleh Pemerintah Sendiri.
Pemindahan asset nasional dunia ketiga kepada Perusahaan asing ketika melakukan liberalisasi negara menjadi agen utama dalam kebijakannya bagi perpindahan asset nasional ke negara maju. Dengan cara Privatisasi sektor publik dan memangkas habis anggaran belanja untuk rakyat.
Negara memindahkan pendapatan dari masyarakat ke orang kaya dengan sistem perpajakan yaitu dengan memprioritaskan pajak pendapatan atas pajak investasi dan melakukan berbagai macam subsidi dan potongan pajak bagi perusahaan.
Kebijakan perkebunan besar juga menjadi sebab bagi meningkatnya pengangguran dan urbanisasi. Pengangguran dan Urbanisasi tampaknya bukan akibat ketidakpunyaan skill seperti yang di kampanyekan oleh kelompok liberal tapi lebih pada perselingkuhan yang dilakukan oleh negara dengan investor asing, akibatnya tentu saja petani kehililangan pekerjaannya, kehilangan tanah, identitasnya dan kebudayaannya yang selama turun-temurun menjadi keahliannya dicerabut dari akarnya.
Selain itu juga penyeragaman pertanian melalui revolusi hijau dimana negara menjadi agen kapitalisme dalam bidang pertanian yang mengakibatkan ketidakberdayaan petani dengan penyeragaman pertanian sehingga pengambilan kekuasaan pertanian. Petani kemudian kehilangan kemandirian yang selama turun- temurun dimilikinya, dimana teknik produksi, pupuk, bibit, pengendalian hama yang selama ini dapat ditanggulangi sendiri oleh masyarakat petani akhirnya bergantung pada Industri pupuk, bibit, pembasmian hama asing.
Di sektor telekomunikasi, Televisi, Radio, Surat Kabar telah menjadi sektor privat yang juga sangat menguntungkan sekaligus menundukkan dan melumpuhkan.
Dari Penjelasan Harvey ini setidaknya kita mendapati bahwa Neo-Liberalisme atau Kapitalisme Global berjalan sepertinya tampak alamiah namun ini adalah gerak sistematis yang dilakukan oleh Negara Maju dan Kapitalisnya dalam meliberalisasi dan memindahkan asset nasional negara dunia ketiga ke Negara-2 Maju melalui tangan negara.
Kapitalisme menjadikan segala sesuatu kemudian menjadi komoditas dalam upaya memindahkan asset masyarakat, pribadi, menjadi milik korporat asing dengan segala instrumen yang telah dilakukannya.
Neo Liberalisme yang bersandarkan pada Teori Neo Klasik yang menginginkan pasar bergerak alamiah tanpa campur tangan negara, sehingga efek lanjutannya dengan tangan yang tak terlihat menjadikan pasar menjadi efisien pada akhirnya menurut teori ini akan memberikan manfaat kepada semua orang. Kenyataannya adalah suatu proses yang sistematis adalah proyek pemindahan asset negara2 berkembang untuk dimiliki oleh negara2 maju.
Contoh yang paling aktual adalah bagaimana krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat yang terjadi saat ini. IMF, Bank Dunia dan Ekonom Liberal lainnya dalam memulihkan ekonomi AS yang berimbas keseluruh dunia saat ini, sebagai dokternya IMF tidak meresepkan apa yang telah diresepkannya kepada negara2 berkembang. Paling tidak resep IMF kepada Indonesia pada tahun ’98 atas paksaan IMF, melakukan Likuidasi Bank, menaikkan tingkat suku bunga, meliberalisasi komoditas publik yang justru mengakibatkan Indonesia masuk dalam jurang krisis yang lebih dalam. Sampai Indonesia harus menanggung biaya sosial krisis tersebut yang sangat tinggi bahkan sampai sekarang pun belum beranjak pulih seperti sedia kala.
Yang terjadi di Amerika Justru melakukan proteksi dengan mensubsidi kerugian asset kapitalis mencapai 1000 miliar dollar, melakukan penurunan tingkat suku bunga. Proteksi yang luar biasa ini justru membelakangi apa yang dikoar-koarkannya selama ini tentang Liberalisasi Pasar dan Minimisasi peran negara.
Bila uang sebanyak itu digunakan untuk proyek pengentasan kemiskinan, kebodohan dan kesehatan mungkin dalam waktu tidak terlalu lama setengah jumlah kemiskinan seluruh dunia dapat tertanggulangi dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama.
AS bila tidak mau dikatakan telah menjelma menjadi negara sosialis paling tidak telah telah menjadi negara korporasi nomor wahid, memegang kendali perekonomian dan asset nasionalnya.
Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa Kapitalisme yang membawa Issue demokrasi, kebebasan individu, kepemilikan hanya tipuan bahkan Kapitalisme adalah Rejim Otorianisme dan Despotisme dan berwajah malaikat yang merenggut paksa kepemilikan yang kita miliki kepada korporasi asing negara maju yaitu Monsanto, Exxon Mobil, Conoco Phillips, Wal-Mart, Freeport, Fani Mae,AIG, dan Segala icon MNC dan TNC lainnya.
09 Oktober 2008
Kapitalisme yang Kreatif (Tanggapan Diskusi Liberal Society/Facebook/Lutfhie Assyaukani)
Hari-hari terakhir ini kita menyaksikan bagaimana kapitalisme dengan segala kedigdayaannya telah menuju kejurang krisis yang terimbas hampir diseluruh dunia pun itu di indonesia, Bursa Efek Indonesia terpaksa menutup perdagangannya 8/10/08 akibat aksi jual begitu tinggi mengakibatkan IHSG jatuh sampai dengan 10%.
Proyek penyelematan ekonomi pun tampaknya harus dilakukan seluruh negara di dunia.
David Richardo nenek moyang guru ekonomi liberal yang selama ini dengan hujah hadisnya bahwa "Negara Haram Ikut Campur dalam Perekonomian" untuk menciptakan keseimbangan ekonomi guna mencapai kesejahteraan/prosperity tampaknya untuk sementara waktu diabaikan oleh AS selaku bapak moyang ekonomi liberal, malah justru ikut campur dengan melakukan intervensi pasar dan menasionalisasi asset bank Investasi, assuransi dan seluruh instrumen pasar keuangan. Paradoks, justru apa yang dilakukan AS, malah mirip menjadi negara sosialis yang selama dianggap setan bagi ekonomi liberal negara ikut campur dalam perekonomian.
Dampak krisis kapitalisme yang bermulai di AS sudah meluas pada hampir seluruh negara di dunia yang mengikuti faham ekonomi yang dianut oleh AS.
Malah menurut saya Thesis Karl Marx mulai terbukti kebenarannya, bahwa kapitalisme dalam perjalanannya akan hancur dengan sendirinya yang diakibatkan oleh gerak kapitalisme itu sendiri. Dalam Bahasa Tony Prasentiantono Economic Bubble / Ekonomi Gelembung udara yang menjadi pilar kapitalisme yaitu pasar uang dan pasar modal sudah mulai meletus meledak tanpa isi.
Semua diakibatkan oleh Trickle Up Effects atau penghisapan keatas oleh kapitalis2 yang mengendalikan uang dunia. Setelah kenikmatan ekonomi yang diraih oleh kapitalis tersebut, ketika krisis terjadi saat ini, untuk memulihkan ekonomi kembali kapitalisme menunggangi negara untuk membereskan krisis ekonomi tersebut dengan menyuntikkan uang rakyat untuk menyelematkan kejatuhan orang2 super kaya.
Hari2 terakhir ini kita melihat bahwa kejatuhan kapitalisme.
Kita menyaksikan bagaimana AS menyiapkan APBN nya dan membentuk sebuah badan yang mirip dengan BPPN untuk menyelamatkan uang orang2 super kaya. Uang rakyat AS disiapkan bahkan mencapai 1000 miliar dollar yang mungkin uang sejumlah tersebut cukup untuk mengentaskan kemiskinan, dan menyehatkan kehidupan ratusan juta rakyat di negara2 berkembang.
Pasar uang dan pasar modal adalah tempat orang-orang super kaya dalam mencuci uang dan merente kekayaan mereka sehingga bekerja bahkan ribuan kali dari nilai awalnya. cara bekerja instrumen kapitalisme ini, justru jauh dari kenyataan bagaimana ekonomi bekerja sesungguhnya pada sektor riil. Uang dan modal yang pada teorinya adalah faktor produksi, malah menjadi komoditas itu sendiri, uang tidak lagi sebagai alat tukar tapi telah menjelma menjadi produk yang diperdagangkan yang nilainya kemudian menjadi semu menjadi komoditas spekulasi, yang bekerja bukan dari hasil produksi namun dari sentimen pasar yang penuh manipulasi dan kebohongan.
Ekonomi liberal dan kapitalisme, pasar bebas telah membuktikan kepada kita bahwa tidak menghasilkan kesejahteraan bersama seperti yang dikhayalkan oleh penganutnya.
Malah menghasilkan bencana yang dahsyat yang dialami dunia terus-menerus. yaitu perang irak, krisis energi, krisis pangan, inflasi, pengangguran, kemiskinan, wabah flu burung, kehancuran lingkungan hidup, kemiskinan.
inikah mungkin yang disebut dengan kapitalisme yang kreatif?
kapitalisme telah menjadi sosok yang sangat kreatif dalam menciptakan bencana dan krisis global.
17 September 2008
Kalla: Contohi BLT, Meski Penerimanya 19 Juta Tetap Aman
Statement Yusuf Kalla tersebut tampaknya menjadi pembelaan diri pemerintah terhadap kasus Musibah Zakat yang mengakibatkan kematian orang miskin di Pasuruan Jawa Timur 15/09/08. Arah statement Yusuf Kalla tampaknya masih berkutat tentang mekanisme pembagian zakat atau bagaimana mengorganized zakat sehingga terbagi dengan aman. Yang membelokkan issue kemiskinan Indonesia yang belum berhasil di atasi oleh pemerintahan ini kepada issue mekanisme pembagian zakat dan sebagainya.
Inti permasalahannya adalah pemerintah SBY-JK belum mampu mengatasi beratnya perekonomian kita, fakta di Pasuruan tersebut, masyarakat yang berkumpul ribuan orang hanya sekadar ingin mendapatkan sedekah yang besarannya puluhan ribu rupiah menjadi bukti empiris bahwa masalah kemiskinan, pengangguran bukanlah sukses story seperti yang dilaporkan oleh SBY-JK di Gedung MPR/DPR beberapa waktu yang lalu.
Pada saat pemerintah SBY-KALLA menyampaikan nota keuangan 15 Agustus Lalu, laporan tersebut Klaim SBY yang menyatakan bahwa angka kemiskinan tahun 2008 ini adalah angka kemiskinan terendah, baik besaran maupun prosentasenya selama 10 tahun terakhir.
Jika data yang disajikan oleh SBY-JK tersebut valid dan tidak sekadar yang membuai rakyat bahwa SBY-JK telah bekerja keras memperbaiki ekonomi bangsa ini, seharusnya semakin berkurang kita melihat masyarakat antri minyak tanah, antri blt yang sedemikian panjangnya atau bahkan zakat yang berujung pada kematian, jauh panggang dari api.
Faktanya diantara cerita pertumbuhan ekonomi yang mencapai rata2 6% pertahun yang disampaikan oleh pemerintah dan dikatakan adalah pencapaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Prestasi di bidan ekonomi tersebut, sangat kontras dengan semakin banyak anak2 berada dijalanan karena tidak bisa sekolah, jumlah pengangguran yang kian meningkat dari tahun ke tahun, tingkat kriminalitas yang semakin tinggi akibat dari kesulitan ekonomi, bahkan busung lapar.
Ataukah prestasi ekonomi tersebut adalah hanya dinikmati sebagian elite penguasa dan pengusaha dinegeri ini? Segelintir orang mungkin yang meraup berkah dari prestasi ekonomi SBY-JK ini, yaitu Cukong Minyak, Pengusaha Perkebunan Kelapa Sawit yang mendapatkan berkah dari kecenderungan tingginya harga komoditas tersebut hari ini, namun sebagian terbesar rakyat indonesia lainnya justru semakin melarat akibat dari meningkatnya harga komoditas tersebut, petaka ini diakibatkan karena naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang secara langsung mengikuti peningkatan harga komoditas tersebut kecenderungan tersebut mengakibatkan efek turunan yaitu meningkatnya juga segala jenis kebutuhan lainnya yang tidak sebanding dengan peningkatan penghasilan. Kita merasakan inflasi begitu tinggi beberapa bulan terakhir ini.
Ada baiknya Yusuf Kalla tidak hanya berstatement yang justru kontraproduktif dengan apa yang sedang dialami oleh masyarakat, pemerintahan ini harus bekerja keras mengatasi permasalahan kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, pemerataan. Opini dan counter opini tidak akan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita yang ada hanya semakin tipisnya kepercayaan kita terhadap elite politik yang bisanya mengeruk kekayaan negara untuk kepentingan pribadinya masing-masing.
Semakin tipisnya kepercayaan masyarakat kita terhadap pemerintah ini bukan hanya asumsi, ini terlihat dari kecenderungan golput yang semakin meningkat dalam pilkada diberbagai wilayah di negara kita. Yang membuktikan bahwa siapa saja yang duduk dalam pemerintahan bukan untuk memperbaiki nasib rakyatnya tapi justru untuk mengeruk kekayaan di negara ini untu kepentingannya sendiri.
Bukti apa lagi yang harus ditampakkan bila kematian di Pasuruan Jawa Timur tersebut yang merupakan bukti kemiskinan dan kelaparan masih membayangi dan menghantui masyarakat kita masih disangkal oleh pemerintah? Buah hasil dari kegagalan negara mensejahterakan rakyatnya.
Seharusnyalah pemerintah sadar bahwa kemiskinan dan kemelaratan adalah kenyataan sejarah yang kita alami dan harus diselesaikan. Bukan justru pemerintah mencari kambing hitam bahwa zakat terhadap yang diberikan oleh H. Syaikhon . Sebab kematian 21 orang di Jawa Timur tersebut adalah akibat dari kemiskinan, kemelaratan dan buah pembangunan ekonomi yang timpang. Bukan justru H.Syaihon dan keluarganya memberikan bantuan dan berbuat baik berdasarkan apa yang mampu mereka lakukan malah dikriminalkan. Kemudian Pemerintah dan lainnya sibuk berpolemik tentang mekanisme pembagian zakat.
15 September 2008
DUA WAJAH REPUBLIK KITA
pembagian zakat di depan masjid di Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/9).
![]()
Pembagian uang Bantuan Langsung Tunai beberapa waktu yang lalu.
antri pembelian Minyak Tanah.
Hasil evaluasi pemerintah, tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia, mencapai lebih dari 6% pertahunnya, bahkan ekonomi Indonesia yang semakin membaik yang dikatakan ole Yusuf Kalla belum pernah terjadi di negara ini sebelumnya.
Tampaknya Tesis ini Yusuf Kalla ini palsu benarnya mungkin kalau kita melihat pambagian zakat di jawatimur sampai sampai jatuh korban tewas 21 orang hanya demi mendapatkan zakat orang kaya yang jumlah nya dalam puluhan ribu rupiah.. Kemudian antrian jutaan rakyat indonesia di kantor pos seluruh indonesia hanya untuk mendapatkan kompensai atas naiknya BBM dengan mendapatkan uang Bantuan Langsung Tunai yang Jumlahnya Ratusan Ribu Rupiah.
Antri jutaan orang juga yang tidak bisa memasak akibat langka nya minyak tanah hanya demi memastikan dapur di rumah kita tetap ngebul. Semua itu dapat kita lihat dan menjadi keseharian pada lingkungan kehidupan kita. Negeri ini belum mampu mengangkat harkat martabat rakyatnya yang masih diliputi rasa lapar yang mendalam dan tenggelam dalam selimut berita Pilkada dan Pemilu 2009 yang menghambur2kan uang negara sampai ratusan triliun rupiah.
Yang paling memilukan adalah hasil riset salah satu majalah bisnis mingguan asia menempatkan salah satu menteri kita sebagai orang terkaya di Indonesia dan masuk dalam peringkat puluhan jajaran orang terkaya di jagat asia. Sangat kontras rasanya bangsa ini membangun peradaban yang tinggi menjulang peradabannya mampu menghasilkan orang yang sangat berpengaruh baik dari ekonomi dan pengaruh politiknya di jagat asia berpesta diantara derita jutaan rakyat didalamnya yang hidup dalam kemiskinan, kemelaratan, dan kelaparan.
Wajah ibu pertiwi tampaknya tetap akan suram gelombang air matanya menjadi darah melihat beberapa anaknya menjadi raksasa dan menebas jutaan anaknya yang lain yang menjadi kurcaci. Bagai epik mesianis antara Habil dan Kabil yang membunuh saudara seayah seibunya sendiri, tapi apa mau dikata, inilah kenyataan yang harus diterima hidup di republik ini.
14 September 2008
Selesaikan Sengketa Pemilu dengan Cara yang Beradab
Pemilihan Kepala Daerah Tingkat I Sumsel telah dimenangkan oleh Pasangan Alex Noerdin dan Eddy Yusuf (Aldy) dari pasangan Syahrial Oesman dan Helmy Yahya (Sohe). Hasilnya, Alex Noerdin memenangi Pilkada Sumsel dengan meraih total suara 1.866.390 suara, sedangkan Syahrial Oesman meraih 1.764.373 suara.
Namun hasil tersebut tidak serta merta diterima oleh kelompok yang kalah, hasil yang ditetapkan oleh KPU tersebut masih menyisakan sengketa untuk hasil pemungutan suara di Kabupaten MUBA.
Yang menjadi masalah adalah dalam pemilihan kepemimpinan untuk memperebutkan BG 1 tersebut, pihak yang kalah dalam hal ini kubu Sohe melakukan pengerahan massa untuk membentuk opini bahwa hasil yang ditetapkan oleh KPU masih perlu dipertanyakan kembali dan harus dilakukan pemilihan ulang.
Pihak Sohe melakukan pengerahan massa dan berujung pada kekerasan. Apakah kekerasan menjadi senjata bagi pihak yang tidak puas terhadap hasil pemilu di negeri ini? ataukah perilaku elite politik atau ideologi kekerasan menjadi ciri demokrasi kita? Pelajaran berdemokrasi di negara kita tampaknya masih jauh dari yang diharapkan, dimana proses rotasi kepemimpinan masih dibayangi teror dalam menanggapi ketidakpuasan terhadap hasil pemilu. Pilkada sebagai sebuah proses, metode, dan prosedur demokrasi dalam memilih kepemimpinan yang kuat dan akseptabel masih mencari bentuk yang ideal. Pendidikan politik ini mesti juga dibarengi oleh perilaku elite untuk dewasa dalam berpolitik.
Biaya pemilu yang besar yang telah ditanggung oleh rakyat, APBD, APBN telah menganggarkan begitu besar untuk sebuah membangun partisipasi politik rakyat belum menghasilkan kepemimpinan yang memiliki sifat dan sikap sebagai demokrat pada berbagai pemilihan kepala daerah di Indonesia justru menciptakan suasana yang mencekam dan anarkisme.
Ada baiknya, para calon kepala daerah yang di usung oleh partai politik bahkan elite parpol yang akan mencalonkan diri sebagai pemimpin baik di tingkat lokal maupun nasional dipilih berdasarkan seleksi yang ketat sehingga kedepan pemimpin atau calon pemimpin yang bermental preman atau bahkan berideologi premanisme tidak diajukan sebagai calon pemimpin. Bahwa selama ini partai politik masih begitu dominan otoritarianisme belum hilang di republik ini. Otoriatarianisme sebagai suatu ideologi berpindah dari orang ke partai politik. Pemilihan kepala daerah justru dijadikan sebagai sumber modal dan lumbung uang bagi pemilihan umum tahun 2009, dimana pihak yang diusung memiliki kontrak politik untuk menjadi bank dalam memuluskan langkah partai pengusung untuk menang pada pemilu 2009. Demokrasi kita sungguh sedang sakit, bahkan kronis dagelan yang paling memuakkan dalam kehidupan bernegara di negeri ini.
Mestinya setiap ketidakpuasan terhadap hasil pemilu tidak diselesaikan dengan cara bar-barian yang justru melukai demokrasi bahkan menciptakan ketakutan di masyarakat akan demokrasi, yang berujung pada anarkisme dan kekerasan bahkan adu kekuatan dapat menjadi konflik horisontal. Lembaga negara telah banyak dibentuk dan dibiayai dengan uang rakyat untuk menjadi jembatan dalam menyelesaikan segala permasalahan yang ada dan ini mestinya dipakai untuk pembelajaran demokrasi kita untuk menjadi semakin matang dan efektif. Cara-cara main hakim sendiri dan kekerasan seyogyanya menjadi catatan sejarah masa lalu dan sebagai langkah bagi kita memperbaiki masyarakat tentang bagaimana membangun peradaban bangsa yang lebih beradab dan rasional tanpa menggunakan cara-kekerasan.
Pembelajaran politik yang beradab secara institusional dalam menyelesaikan permasalahan sengketa pemilu telah eksis di negeri ini dengan dapat mengajukan segala bentuk ketidakpuasan tersebut melalui Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung. Elite Politik dan Elite Partai semestinya memberikan pembelajaran politik yang bermartabat kehadapan massanya masing-masing bukan bahkan mengadu domba massa rakyat untuk saling vis a vis bentrok ini bukan saja sebagai suatu sikap politik yang belum dewasa dalam berdemokrasi, malah hal ini melecehkan lembaga yang telah dibentuk oleh negara seperti KPU, Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, POLRI dalam menyelesaikan permasalahan yang timbul dimana elite politik melakukan cara-cara premanisme.
Bahkan dari studi kasus penyelesaian sengketa pemilu yang dipertunjukkan oleh elite politik di Sumsel meyakinkan saya terhadap teori "perilaku elite politik cerminan dari perilaku pengikutnya". Dalam kultur sosial masyarakat yang masih patronase perilaku menjijikkan yang sedang ditunjukkan oleh elite politik akan menjadi pembelajaran bagi massa dibawah dalam menyelesaikan permasalahan yang ada didalam lingkungan masyarakat yang terdapat di dalamnya. Selama penyelesaian sengketa pemilu ini tidak dicari solusi dengan cara institusional dan konstitusional maka tentu saja ini akan menjadi cerminan dalam setiap sengketa pilkada dibawahnya baik pemilihan bupati/walikota dan pemilihan kepala desa sekalipun. Sangat besar biaya politik yang akan timbul bila
Sehingga apa yang akan terjadi? Yang terjadi justru anarkisme dan main hakim sendiri pada ujungnya adalah kita meremehkan institusi-insitusi yang ada seperti, KPU, Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, Polri dan sebagainya. Padahal negara membentuk institusi yang ada adalah media bagi masyarakat dalam menyelesaikan permasalahannya secara beradab.
Untuk itu, sebagai negara yang baru belajar berdemokrasi, baiknya elite politik menunjukkan sikap dan perilaku yang beradab, negara ini adalah negara hukum setiap orang mestinya percaya bahwa setiap permasalahan yang timbul dimasyarakat harus diselesaikan dengan hukum, ini akan menjadi pembelajaran politik yang sangat berguna bagi masyarakat dalam membangun masyarakatnya untuk percaya dengan hukum dan kita mesti mendesakkan hukum secara terus menerus dan konsisten adalah cara satu-satunya dalam menyelesaikan setiap sengketa dan ketidakpuasan. Untuk dijadikan sikap hidup berbangsa dan bernegara.
Elite politik mesti mendahuluinya sikap mental tersebut dengan memberikan contoh dalam menyelesaikan sengketa pemilu sumsel dengan jalur hukum bukankah Undang-undang juga telah mengatur tentang langkah-langkah penyelesaian sengketa pemilu tersebut? Tahapan tersebut mesti diambil karena langkah hukum adalah satu-satunya langkah yang menjadi aturan main bagi kita. Dalam hal ini Sohe dan partai politik pendukung nya seyogyanya memberikan contoh kepada masyarakat sumsel bagaimana membangun demokrasi yang beradab dan bermartabat dihadapan massa masing-masing lebih-lebih kepada masyarakat Sumatera Selatan. Karena kita membutuhkan ketauladanan, karena ketauladanan pemimpinlah yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam berdemokrasi, tanpa ketauladanan untuk taat pada hukum demokrasi dan proses pilkada tidak akan menghasilkan kesejahteraan masyarakat pada akhirnya justru menjadi neraka baru.
08 September 2008
Belum Ada Judul
Namun pada kenyataannya tampaknya dengan analisa sosial berdasarkan kelas tersebut semakin kabur dewasa ini, sebagai contoh bila Selama ini Negara Barat yang dikomandoi oleh AS dianggap negara Kapitalis, yang menyerap seluruh sumber daya didunia menuju kepada nya, tampaknya tidak sepenuhnya benar.
Hari2 terakhir ini kita semakin jelas melihat bahwa Saudagar-saudagar Arab pun telah menjadi raksasa pemodal yang penuh ambisi. Dalam headlines media hari2 terakhir ini kita lihat Manchester City telah dibeli oleh konsorsium kapitalis Arab untuk mengeruk ruang dan benak dunia yang pada akhirnya adalah mengeruk uang dari masyarakat global di pasar saham atau mengikat iklan yang besar yang pada akhirnya juga produk menjadi kian mahal akibat cost iklan yang sangat tinggi.
Sekat informasi dan dan keuangan, modal barang dan jasa pun kian kabur dengan batas2 geografis, kita lihat mobil Toyota, MC D, Coca Cola dapat kita lihat dinagara barat, timur, negara kaya atau miskin atau segala label yang kita sematkan kepadanya.
Ekonomi kawasan pun kian menguat untuk mempertahankan tingkat inflasi, daya beli, distribusi barang dan jasa, serta ketahanan ekonomi, nilai tukar mata uang. Eropa membentuk ekonomi kawasan AFTA, NAFTA, ASEAN dsb.
Tak kalah menariknya, revolusi teknologi informasi pun mengubah wajah dunia dari sekat2nya, arus informasi modal, barang, dan jasa, ekonomi, politik, budaya, dalam hitungan detik setiap sumber daya tersebut dapat berpindah dari satu negara ke negara lain. Yang ingin saya katakan bahwa, pelabelan barat dan timur, sosialis, kapitalis,sekular, agamis, islam dan non islam, utara dan selatan, dan segala dikotomi lainnyya semakin kehilangan makna. ini terbukti bahwa Islam dikatakan identik dengan negara Miskin, terbelakang pun tak terbukti dengan muncul nya saudagar arab yang mulai menguasai dunia pun di AS.
termasuk mengelompokkan ilmu pengetahuan islam dan barat pun tampaknya sudah tidak relevan, karena dengan arus informasi yang begitu deras tak ada yang dapat membendung seperti era sekarang, muslim dapat dengan cepat mempelajari ajaran non muslim , kebudayaan, dan segala macamnya, begitu juga non muslim sebaliknya. sehingga tidak heran kita ada muslim yang menjadi pakar bagi agama lain begitupun sebaliknya.
peta dunia dalam mengkelompokkan atas dasar terminologi lama sepertinya semakin usang bahkan justru dapat membawa kita kepada kesalahan dalam analisa.
Menurut Erich Fromm, masyarakat dunia saat ini telah masuk dalam karakter sosial yang relatif homogen, yaitu dunia sekarang tengah membentuk masyarakat konsumsi, yaitu disetiap negara telah menjadi masyarakat yang kehidupannya diarahkan hanya untuk berkonsumsi secara terus menerus. segala sesuatu yang diproduksi tujuannya hanya satu untuk mengkonsumsi sebanyak-banyaknya. Manusia peduli dia muslim, non muslim, barat, timur, utara, selatan menjadi rakus dan serakah. apabila kita mengatakan bahwa negara kapitalis itu negara barat mungkin bisa jadi agak meleset, arab saudi, qatar, china, pun telah menjadi negara penghisap baru yang siap menyaingi bahkan mungkin menjadi kartel bagi orang-orang super kaya lewat tangan-tangan Multinational Corporation atau Transnational coproration yang mengarahkan negara lain disetiap belahan dunia ini untuk mengkuti kerakusannya.
maka mungkin pada akhirnya adalah bencana kemanusiaan yang tidak ada kaitannya dengan muslim, non muslim, barat, timur, utara selatan, yang akan merasakan bencana kemanusiaan yang maha dahsyat akibat kerakusan segelintir orang-orang super kaya dimuka bumi, yaitu Global Warming, Kemiskinan, radikalisme, terorisme, Bencana Alam, Bencana Kelaparan, AIDS, Flu Burung, Perang, dan segala bencana kemanusiaan lainnya yang selalu melanda umat manusia.
Marilah kita tidak lagi melihat sesuatu ketidakadilan, penghisapan, keserakahan, pencurian ilmu pengetahuan berdasarkan terminologi lama. karena bumi telah semakin menjadi tiada batas yang ada hanya bencana yang selalu melanda manusia pada setiap zaman akibat ulah orang-orang super kaya di dunia ini.
perang agama telah mengakibatkan trauma yang begitu pedih terhadap keluarga korban yang ditinggalkan akibat sinisme kita terhadap agama lain, seperti di poso, ambon atau kasus terakhir adalah ahmadiyah di indonesia. mari kita bangun peradaban ini dengan lebih terbuka, saling menghargai, dan saling memahami perbedaan yang ada untuk melakukan dialog guna terjadi pada tahap awal yaitu toleransi untuk menuju prularisme masyarakat global yang berdasarkan nilai2 universal dan berkeadilan. Peradaban manusia masih akan berpotensi untuk hancur berkeping-keping bila kita merasa saling benar sendiri tanpa mau mengakui bahwa perbedaan adalah fitrah dan hujjah akan eksistensi tuhan itu sendiri.
selanjutnya mungkin sesama manusia sebagai warga bangsa dan bahkan warga dunia saling melepaskan atribut yang dimiliki saling bekerja sama untuk menegakkan keadilan sejati menuju musuh bersama yang selama ini dengan tangan2 yang tak terlihat telah mencerabut kehidupan kita, orang tua kita, bahkan masa depan anak cucu kita.
bukankah setiap agama juga memiliki kebenaran yang bersifat universal yang ingin ditegakkan demi masa depan manusia, kemanusiaan dan alam semesta. mungkin bila tidak setuju dengan teori relativitas kebenaran paling tidak menurut Mehdi Hairi Yazdi keabsolutan kebenenaran oleh tuhan bagai sinar yang masuk keprisma sehingga kemudian kebenaran yang satu tersebut menjadi relativ akibat terpecah menjadi berbagai warna,...........
karena apapun juga permusuhan, ketidaksepahaman, kebencian, ketidaksalingmengertian pada akhirnya akan berujung pada penderitaan manusia dan kemanusiaan kembali...
wassalam.
07 September 2008
MENJADI PEMBANGKANG ATAU TAAT TANPA SYARAT
ketaatan yang semakin mengentalmungkin bisa dikatakankan loyal, kemudian menjadi militan bahkan menjadi puritan. Otoritas atau lembaga dan pemimpin menciptakan dan membangkitkan kembali simbol dan virtual vision terhadap apa yang ingin mereka capai yaitu cita2 membius pengikutnya. Slogan dipropagandakan kepada massa sampai saat tertentu massa menjadi budak. Itulah bisa dikatakan hegemoni, ketika pemimpin telah mengambil otoritas dari massanya, dan massa secara sukarela menyerahkan kebebasan mereka dibawah ketiak virtual vision pemimpin yang ditanamkan dialam bawah sadar massa.
Boleh jadi, Nazi misalnya menanamkan keyakinan mereka akan perjuangan bangsa Aria dalam menguasai dunia, filsafat, mitos, slogan, jargon, lagu-lagu, gerak langkah, uniform diciptakan demi menjadikan massa menjadi robot bernyawa yang siap digerakkan atas kepentingan virtual vision , atau cinta, atau suatu tatanan sosial yang ingin diciptakan. Sehingga massa bergerak mematuhi apa yang diperintahkan oleh pemimpin atau organisasinya dengan penuh kesungguhan bahkan mengorbankan kepentingan mereka sendiri.Sampai pada suatu massa apa yang dikehendaki oleh yang menghegemoni berhasil dilaksanakan berdasarkan ukuran2 keberhasilan yang mereka tetapkan secara sepihak.
Bila massa telah sukarela menyerahkan otoritas mereka pada lembaga atau otoritas mereka maka akal budi, keyakinan,logika, rasionalitas segala apa yang diyakini dari bentukan internal akan lebur dalam keyakinan artifisial yang dikembangkan oleh elite organisasi. Artinya kebebasan kemanusiaan mereka telah diberikan secara sukarela pada pemimpin mereka. Semakin pengaruh pemimpin dan terhadap individu pemimpin menjadi keniscayaan dalam mengarahkan massa nya menjadi apa yang diinginkannya.
Bahkan pemimpin sering kali disimbolkan sebagai sosok penyelamat atau ratu adil yang dia sendirilah yang berhak menterjemahkan suatu kebenaran atau satu2nya pihak yang berhak menentukan hujjah terhadap apapun bahkan sampai hal-hal terkecil yang bersifat individual. Inilah yang kita sebut dengan ketaatan mutlak. Massa digiring pada pada pemenuhan segala kebutuhan pemimpinnya namun pemimpin menyelamatkan diri bahkan untuk lebih menguatkan posisinya ditataran massa sebagai kepentingan massa bukanlah untuk kepentingannya.
Pengaruh dan dominasi ini bahkan masuk dalam wilayah privat pada setiap rumah massanya. Itulah sifat pemimpin sejatinya selalu mencari posisi untuk menjadi otoriter, menggunakan apa yang mereka bisa untuk menguasai atas dalih cita2 besar bersama, bahkan bisa dilihat dari organisasi agama bahkan organisasi preman sekalipun.
Ketika demi cita2 bersama yang dijargonkan, maka segala sesuatu yang memungkinkan untuk tercapainya cita2 bersama atau virtual vision tersebut, segala tindakan menjadi halal dan boleh. Misalnya kasus perang antar agama sekalipun, pemimpin atau otoritas agama menghalalkan kezaliman, korupsi, perampasan hak hidup, pemerkosaan, dominasi, menggantung menjadi halal demi satu kata perintah agama yang ditafsirkan sepihak oleh orang2 otoriter. Padahal sejatinya agama hanya dipakai oleh elite untuk kepentingan dirinya sendiri, demi kekuasaan, demi tanah, demi sumber2 alam yang mesti dikuasai.
Atau otoritarianisme ini juga sering mengental pada setiap organisasi ketika organisasi itu mempunyai keyakinan atau bahkan ideologi tertutup. Yaitu suatu keyakinan yang hanya segelintir elite saja yang berhak dalam melakukan penafsirannya. Massa tidak diberikan ruang bagi melakukan penafsiran terhadap apa yang telah menjadi keyakinan bersama tersebut.
Bila terdapat penafsiran baru yang bertentangan dengan apa yang diyakini bahkan tidak sejalan dengan kepentingan pemimpinnya, maka orang tersebut mendapatkan stigma pembangkang atau pemberontak. Pemberontak pastilah akan dibuat mati walau pun mereka bisa tetap hidup, atau hak2nya akan disusutkan sampai pemberontak tersebut hilang pengaruhnya dalam organisasi tersebut.
Contoh kontemporer mungkin , Anwar Ibrahim adalah salah satu contoh pemberontak dalam terminologi penguasa yang sedang berkuasa di Malaysia. Maka hak-hak nya pun dicabut, disingkirkan bahkan hak hidupnya pun dapat diambil paksa oleh pemimpin2 otoriter.
Menjadi pembangkang dalam pada wilayah otoritarianisme telah menghegemoni kehidupan masyarakat, penguasa tersebut menguasai segala infrasutruktur dan suprastruktur yang terdapat didalam lingkungan sosial yang dikuasainya bisa dikatakan pada saat itu adalah orang gila. Karena melawan mitos, gerak langkah, bagi pencapaian virtual vision penguasa.
Menjadi pembangkang dalam suasana dominasi yang begitu kuat, sehingga tidak memungkinkan bagi menciptakan nilai, pemahaman, kesadaran, rasionalitas adalah pengembanan amanat kenabian yang selalu ada pada setiap zaman.
Mungkin perbudakan pada abad mula adalah pencerabutan hak-hak kemanusiaan yang paling estrim yaitu manusia dijadikan budak yang sama hal nya dengan binatang ternak. Dimana manusia ditempatkan layaknya sapi penggarap sawah yang dipaksa bekerja, dipecut dan dibelati kemudian diberikan setumpuk rumput untuk kuat bekerja kembali.
Namun, pada setiap zaman perbudakan selalu muncul dalam bentuk baru bahkan zaman sekarang menjelma dalam bentuk yang sangat halus bahkan kita sendiri tidak menyadarinya atau mungkin kita telah masuk dan tercerabut kemanusiaan kita dalam perbudakan abad ini. Bila di Myanmar masih dalam cengkeraman otoriritarianisme yang paling nyata yaitu dengan aktornya adalah elite penguasa. Namun pada negara demokrasi sekalipun seperti negara kita, pun tidak luput dalam perbudakan global oleh korporatokrasi dimana negara rakyat institusi keagamaan,pemerintah, parlemen, pengadilan, media, militer, dikuasai oleh perusahaan asing yang menggunakan tangan-tangan negara tersebut.
Tangan negara pun dalam comfort zone, dimana mereka merasakan kenyamanan dari sistem sosial ini, persis juga seperti zaman penjajahan belanda dimana penguasa pribumi yang diwakili oleh raja-raja, demang dan pejabat pemerintahan dalam menguatkan penjajahan di Indonesia kala itu.
Dan setiap zaman juga muncul nabi2 baru yang memberontak terhadap otoritarianisme dalam segala bentuknya. Menawarkan nilai2 lama yang dibawa oleh para nabi dalam konteks yang lebih aktual. Pembangkangan pada awalnya selalu dijadikan sebagai musuh bersama baik itu oleh penguasa bahkan oleh rakyat.
Pembangkangan dan pemberontakan yang dimotori oleh kelas menengah kelompok yang paling tertindas akibat dari sistem sosial yang menindas tersebut selalu menuntuk kemerdekaan yang sejati atas dasar2 nilai persamaan, rasionalitas, keadilan, kesejahteraan bersama, perebutan kembali aset nasional selalu akan mendapatkan penentangan yang sangat keras.
Yang menjadi pertanyaan sesungguhnya adalah, apakah kita akan mengemban tugas2 mulia kenabian mesianis yang menjadi nilai spiritual terkandung didalam setiap diri manusia sebagai tugas yang dibebankan kepadanya? Namun resikonya kita akan menjadi petualang kesepian,bagai bernyanyi ditengah pantai?
Ataukah kita membiarkan kita, keluarga, masyarakat, negara menjadi budak pemuasan atau bahkan kita menjadi pendukung bagi atau menjadi paku yang menanamkan semakin kuat bagi penindasan masyarakat kita sendiri? Dan kita menjadi paku bagi menguatkan setiap penindasan, pemiskinan, penyerobotan hak-hak kehidupan kita bahkan yang paling dasar sekalipun, namun kita mendapatkan nilai tambah dari padanya seperti demang, atau pejabat pribumi yang diberikan kuasa oleh penjajah belanda dulu untuk mengusir kita dari tanah kita sendiri?
Akankah kita melanjutkan tugas-tugas kemanusiaan kita, yang memang melekat dalam kemanusiaan kita? Terkadang mereka yang telah masuk dalam comfort zone/zona nyaman yang telah mendapatkan apa yang mereka inginkan tidak mau untuk berubah apa lagi untuk memberikan apa yang mereka miliki untuk mereka yang telah dimanipulasi. Kita juga sering menjadi agen bagi penindasan yang disadari atau tidak telah mencerabut apa yang telah dimiliki lingkungan sosial kita.
Kekuasaan juga kadang2 adalah musuh yang nyata bagi kita sendiri.
Namun kekuasaan juga begitu seksi dan menggoda, yang dipakai untuk menghegemoni dan menguasai mereka yang dapat dimanipulasi untuk merebut segala yang bisa direbut, bahkan sampai seluruh bumi telah dikuasaipun tetap lah kita tidak merasa cukup akan nya.
Sejarah telah membuktikan bahwa kesadaran, rasionalitas, dan pengembanan misi kenabian untuk menjadi pembangkang adalah pilihan yang harus dipilih sebagai bukti eksistensi kita sebagai manusia. Sehingga kita tidak mati dalam hidup atau hidup dalam kematian. Semangat untuk memberontak terhadap segala bentuk otoritarianisme dan menggantinya dengan nilai2 yang membahagiakan terus dikobarkan dalam setiap diri. Karena setiap darah dan jantung akan tetap akan berdetak kencang bila kita melakukan pembangkangan dan pemberontakan untuk menuju kehidupan yang benar2 hakiki.
Setiap otoritarianisme adalah musuh yang nyata dalam kehidupan kita, segala bentuk manifestasinya hanya dapat dimusnahkan atau paling tidak diimbangi oleh orang-orang menjadi kelompok orang bahkan menjadi gerakan oleh para pembangkang dan pemberontak untuk menciptakan kehidupan yang dapat dikontrol oleh setiap kelompok masyarakat didalamnya. Karena tanpa ada kelompok orang yang gelisah untuk melakukan perubahan, maka kita telah atau memang bagian dari otoritarianisme itu sendiri yang telah dan akan mencabut kemerdekaan kita sendiri didalamnya. Bagai Ali Syariaty, atau Abu Dzar Al-Ghiffari, Socrates, Galileo Galilie atau D.N. Aidit menjadi terasing dan sepi diasingkan dari kehidupannya sendiri sebagai pilihan menjadi pemberontak bagi otoritarianisme. Mungkin kematian adalah lebih baik bagi mereka karena kemerdekaan adalah pilihan terbaik bagi mereka dari pada menjadi penguat penindasan bagi lingkungan, massa mereka sendiri.
Pemberontak dijalan kebenaran seperti tokoh2 tersebut memang jalan hidup yang mesti dipilih dari pada menikmati kemewahan yang menggoda. Karena setiap kemapanan selalu menggoda setiap orang didalamnya.Setiap pemberontakan, perjuangan, reformasi, atau apapun namanya selalu memakan anaknya sendiri. Mereka lah korban bagi suatu perjuangan dan pemberontakan atau revolusi yang tak selesai, dimana mereka berjuang untuk suatu nama yang begitu mulia yaitu kebebasan kemudian masuk dalam suatu penjajahan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya yang menggunakan seluruh aparatus atau insititusi didalamnya. Revolusi yang memakan anakknya sendiri, memang benar adanya. Namun mereka menjadi simbol bagi kebangkitan pemberontak2 baru disetiap belahan dunia, yang membuat dunia ini tak pernah mati.
18 Agustus 2008
Artis Berpolitik, Apa Yang Kau Cari?


Kelelahan masyarakat terhadap kinerja partai dan kinerja parlemen dan pemerintah mengakibatkan artis menjadi jawaban bagi kebutuhan untuk menggaet massa pada pemilu 2009. Yang penting dicermati tampaknya kecenderungan partai-partai politik peserta pemilu terutama partai besar menggaet artis sebagai caleg.
Saat ini saja paling tidak beberapa artis yang memenuhi panggung politik di senayan adalah Angelina Sondakh, Aji Massaid, Komar, Mangara Siahaan, Belum Lagi seperti Dede Yusuf, Helmi Yahya, maupun Rano Karno. Atau artis yang menjadi elite partai, Rieke Diah Pitaloka, Tantowi Yahya dll.
Namun, apakah artis yang direkrut partai selama ini sudah memberikan sumbangan yang signifikan bagi politik, demokrasi dan kesejahteraan masyarakat kita?
Yang menarik justru pendapat Bivitri Susanti dari Pusat Hukum dan Kebijakan (PSHK), "Kinerja artis di parlemen tidak menonjol" hal ini artis tidak banyak berperan dalam mempengaruhi dan memberikan sumbangsih bagi perubahan kebijakan publik yang lebih baik atau bahkan tidak bersuara, hanya menjadi pendengar yang baik.
Mencermati masalah ini, Partai politik telah gagal melakukan kaderisasi politik dan kepemimpinan, atau bahkan perilaku kader partai politik yang brengsek. Hingga tampaknya partai politik bukan menjadi harapan bagi masyarakat bagi instrumen untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Pengorganisasian kelompok2 civil society yang mestinya menjadi tanggung jawab dan diperjuangkan hak-hak sipil politiknya belum dilakukan kader partai politik dipemerintahan maupun diparlemen dengan maksimal. Lihat saja kasus Lumpur Lapindo yang menggantung tak keruan ujungnya, yang pasti politisasi masalah tersebut jalan tersebut, bahkan menjadi issue yang dapat dijual untuk kampanye namun solusi nya terus menggantung tanpa diketahui endingnya. Atau banyaknya anggota partai politik diparlemen dan pemerintahan saat ini terlilit kasus korupsi BI, hal ini juga menjawab semua keraguan masyarakat terhadap perilaku elit politik bangsa ini.
Hal ini jelas berpengaruh bagi citra partai dan politik nasional. Ini dibuktikan oleh beberapa survei dan pilkada didaerah tentang Fenomena Golput yang terus meningkat. Kejenuhan atau apatis masyarakat terhadap perilaku politisi maupun tabiat partai politik yang belum menunjukkan keberpihakannya kepada masyarkat bahkan bagai predator yang menguras seluruh kekayaan negara.
Yang pasti partai politik telah gagal menjaring keanggotaan dan melakukan kaderisasi kepemimpinan untuk dijual. Politik uang telah menjadi bahasa dalam perumusan kebijakan publik.
Partai politik mestinya menjadi instrumen dalam rotasi dan regenarasi kepemimpinan bangsa ini. Partai politik semestinya menjadi jawaban bagi munculnya wajah baru segar kepemimpinan nasional memiliki integritas tinggi dalam membangun bangsa ini.
Maka partai politik membutuhkan ikon baru dalam representasi wajah partai yaitu artis. Karena artis memang setiap hari muncul dalam media. Popularitas artis dimanfaatkan untuk meningkatkan rating partai menjelang pemilu. Artis memang vote getter yang efektif dalam menggaet massa, karena artis memang mempunyai basis penggemar yang terukur bahkan beberapa artis mempuyai penggemar sampai jutaan.
Namun apakah membangun politik dan demokrasi kita akan lebih sehat dengan rekrutmen artis yang belum teruji kemampuan dan pengetahuannya terhadap masalah bangsa ini yang semakin rumit ditengah himpitan kesulitan yang semakin kompleks?
Kalau hanya duduk dan menjadi pendengar yang baik?
Semestinya partai politik mampu mencermati artis yang mempunyai komitmen dan pengetahuan yang mumpuni untuk menjawab permasalahan bangsa ini. Paling tidak masih banyak artis yang teruji yang memberikan warna bagi pembentukan watak masyarakat yang lebih baik dalam membangun bangsa ini seperti Iwan Fals, Franky Sahilatua, Dedi Mizwar atau Slank.
Alat ukur itu mestinya juga menjadi pertimbangan partai politik dalam merekrut artis dalam politik. Sehingga tidak lagi kita jumpai artis yang hanya menjadi Vote Getter dalam pemilu, namun setelah diparlemen hanya menghabiskan waktu untuk duduk, diam, dan tanda tangan. Tanpa mengerti akan dibawa kemana bangsa dan negara ini, sambil menikmati berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan negara terhadapnya.
Selain contoh yang kurang mengenakkan dalam politik indonesia, Sophan Sopian adalah contoh artis yang menjadi politisi yang sangat baik untuk dicontoh oleh artis indonesia ketika menjadi negarawan. Dimana komitmen kebangsaan dan dengan rakyat konstituennya tidak diragukan lagi sampai akhir hayatnya.
selain itu partai politik selama ini walaupun berjuang terhadap demokrasi tapi belum berhasil membangun demokrasi dalam internal partainya sendiri, ini bisa dilihat dari rekrutmen dan keputusan politik internal partai sering kali tidak demokratis.
sampai akhirnya partai politik semestinya harus terus melakukan pengorganisasian karena kepemimpinan nasional yang baik dan mempunyai visi perubahan sebenarnya tugas partailah untuk menjaringnya, dan memberikan ruang yang luas bagi munculnya politisi2 dari berbagai elemen masyarakat sehingga kontrol dan jalannya pemerintahan dapat sesuai dengan harapan masyarakat sehingga pada akhirnya berpengaruh bagi kesejahteraan masyarakatnya. Sehingga olgarkhi dan plutokrasi politik yang kecenderungannya saat ini dapat diminimalisir.
Sehingga pembangunan perpolitikan kita pun menuju arah yang semakin baik.
17 Agustus 2008
Nasionalisme itu apa ?
aku tak tahu lagi apa makna nasionalisme sebenarnya, karena pada kenyataannya nasionalisme itu rakyat busung lapar, pemerintah korupsi,...
tanah dan sumber alam tergadai,........
setiap orang maupun golongan ingin berkuasa untuk menguasai manusia lainnya dalam wilayahnya. kelas menengah maupun elite tabiatnya tiada lah berbeda, selalu mengumbar jargon surgawi dan seperti rayuan gombal baing yang lagi merayu abg untuk mendapatkan tubuh abg tsb untuk dapat digerayangi demi memuaskan birahi politiknya, begitu lah nasib rakyat indonesia selama bahkan sampai hari ini. ironis,.
maka saya berpikir butuh pemimpin seperti Hugo Chavez, ataupun Mahmud Ahmainejad atau D.N. Aidit sebuah sosok pemimpin proletar yang merasakan suasana batin rakyatnya dan berani berada ditempat terdepan untuk menegakkan visi pro rakyat, yang masih hilang senyap hilang ditelan kenyataan yang terasa kian perih.
menyingkirlah oportunis politik sudah terlalu banyak iblis bertopeng nabi gentayangan ,..... yang mengatasnamakan rakyat dan menjual kemiskinan dan penderitaan rakyat untuk mengeruk indonesia,...........
salam pembebasan,...
03 Mei 2008
indonesia kapankah engkau melewati dosa sejarah
Mungkin yang penting dicermati adalah Tap MPR tentang PKI yang sampai hari ini belum dicabut oleh MPR.
Pencabutan Tap MPR tersebut sangat penting bagi Indonesia untuk bergerak maju dari bayang-bayang masa lalu yang mencekam. Dimana lebih dari 500 ribu nyawa manusia yang dibantai, dihukum dan dipenjara tanpa pengadilan.
Luka tersebut belum akan sembuh sebelum ada keberanian politik penguasa untuk mengungkapkan bagaimana peristiwa G 30 Sept 65 itu sebenarnya. Supersemar yang merupakan legitimasi bagi soeharto dan orde baru berkuasa pun masih sangat misterius.
Mungkin yang perlu dicermati adalah kejahatan kemanusian yang terbesar di muka bumi yang Putra putri yang dituduh komunis, dari peristiwa G 30 Seot 65 masih merasakan trauma yang sangat mencekam apa dosa bapak atau nenek moyang mereka sehingga anak keturunannya dikutuk bahkan dianggap bagai keturunan iblis. Sehingga segala bentuk kekejian dimasyarakat sering dipersamakan dengan PKI. Bahkan anak durhaka pada orang tuanya, membunuh sering kali dipersamakan dengan perilaku PKI. Hal ini terasa sangat tidak adil dan sangat tidak manusiawi dimana kita memegang teguh pancasila sebagai pemersatu bangsa ini.
Padahal PKI adalah hanya salah satu partai politik yang memegang ideologi mainstream. Lintasan sejarah Indonesia berlalu begitu saja dengan telah berpindahnya kekuasaan pada lebih dari 4 Presiden yang memimpin negeri ini, namun sampai hari ini belum ada satu partai politik pun yang mempunyai keberanian politik untuk mencabut Tap MPRS tersebut.
Negara ini untuk menatap masa depan yang lebih baik tanpa memendam luka sejarah yang dalam harus memiliki keberanian untuk mengungkap seluruh kekejian yang dilakukan oleh Orde Baru terhadap pelanggaran hak hidup rakyatnya dari awal orde baru berdiri sampai saat kejatuhannya.
Ganjalan sejarah ini sangat menghambat dalam membangun negara ini menjadi kuat dimana seluruh elemen masyarakat dalam kembali bersatu bahu membahu membangun bangsa ini menjadi bangsa lebih baik dan bermartabat.
Sampai dengan kematiannya pun Soeharto tidak pernah diadili tentang apa yang telah dilakukannya termasuk ABRI, Golkar, dan Birokrasi yang merupakan fondasi politik orde baru pada waktu itu.
Disisi kita melihat begitu banyak hal baik yang dilakukan oleh orde baru, sisi kelam yang dilakukan oleh orde baru tidak boleh dilupakan begitu saja. Hal ini penting bagi renungan anak bangsa dalam melangkah menjadi lebih baik. Mungkin tokoh negeri in bicara tentang permaafan dan rekonsiliasi. Namun maaf takkan pernah ada artinya tanpa ada pengungkapan kesalahan, begitu pun rekonsiliasi takkan mungkin dilakukan tanpa ada keberanian politik penguasa untuk berbesar hati untuk mengungkap dengan tuntas dosa besar sejarah orde baru yang mencabut hak hidup manusia yang mestinya hanya tuhan saja berhak mencabut nyawa mahluknya.
Pemimpin telah banyak berganti, partai politik telah banyak pula yang memimpin negeri ini, namun harapan harus tetap terpatri untuk Indonesia menjadi sebuah bangsa yang berani untuk menjadi bangsa yang besar yaitu bangsa yang berani mengakui kesalahannya kemudian bangsa ini akan menjadi bangsa yang lebih kuat dari sebelumnya lebih besar.
Bukankah semua pemimpin itu manusia, harusnya kemanusiaan pemimpin selalu menyimpan kelemahan, mestinya bangsa ini harus bangkit untuk bersatu dengan berani berkata yang benar itu benar yang salah itu salah serta berbaikan untuk bermaafan sehingga terjadi rasa saling memahami dan menghormati sesama warga bangsa. Semua elemen bangsa ini adalah berkontribusi bagi bangsa ini menjadi besar tidak bisa suatu elemen menganggap bahwa mereka lah yang paling berjasa dalam membangun dan memerdekakan bangsa ini, bukankah PKI juga berperan besar dalam memerdekakan bangsa ini, jangan pernah menganggap remeh bahkan melecehkan jasa besar pendiri bangsa ini.
walau sampai hari ini belum ada titik terang permasalahan dosa politik kemanusiaan terbesar abad ini yang dilakukan oleh Soeharto dengan orde barunya. Sebagai generasi muda yang melanjutkan tongkat estafet membangun bangsa ini lebih bermartabat, harus tetap menyimpan harapan bahwa dosa orde baru harus diungkap untuk menjadi pelajaran yang bisa ditarik pelajarannya oleh penerus bangsa ini.
Harapan, harapan terus dikembangkan karena karena harapanlah kita masih terus berusaha untuk maju,....
Kini pemilu 2009 sudah kian dekat, kepemimpinan nasional akan berotasi,....
maka kita tetap harus punya harapan bahwa negara ini akan menjadi negara yang besar,.. yang berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada mereka yang telah dizaliminya dan merehabilitasi seluruh hak-hak yang telah direnggut paksa.


