Ali disisi Rasulullah Seperti Musa dg Harun hanya Tak ada Nabi Lagi Setelahnya

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

20 Januari 2013

Syair Cinta Moga Tak Terlambat

Jika ada pantai tuk bersandar, ingin kuletakan smua lelah tidak dalam kata, tapi kubasuh tangan kakimu sdia kala.
Kutuangkan air kelapa, bukan tuk dahaga mu saja, tapi ceriakan rona wajahmu yg dlm lama telah hilang tawa.
Kubuatkan perapian, hangatkan ruhani mu yg dingin beku diantara datang keajaiban.
Pelepah kutegakan dangau lepas lelah jiwa mu.
Saat kau rajut mimpi, kudongengi ttg cerita orang suci, yg bersyurga dlm coba.
Tak ada tangis tapi ikhlas dlm ketundukan.
Kuletakan jari ku dipipimu, kukatakan' jgn bersedih sayang, kita tlah sampai tujuan'.
Muara cinta berkahi mu, ku & kita Saat senja berkala, kusiapkan permadani mahkota syurga, nyenyakan tidurmu, diantara kantuk sring kau rasa
Inila, sbuah cinta yg sempurna, dlm lalai ia tak berasa indah, dlm senang ia tak berasa nikmat, dlm limpahan ia tak berasa anugrah Hatta, kdang tak sabar ku melihat pantai, pdhl mentari, angin msh gemuruhnya tanda perahu kan menepi.
Ku coba kuatkan kan akal diantara gelombang perih coba kalahkannya, dimana ujung waktu? Dmna sandiwara, tak permainkan jiwa penonton ?
Krn, sbuah ujung, menjadi singgasana lakon dan cerita, diujung sana kah?
Sbuah tempahan manusia tuk dia menjadi apa
Ku tak tahu, labirin hidup mmg bukan tuk difahami, tapi bgimna ttg hidup yg mesti dijalani tanpa bertanya & mempertanyakan.

12 Desember 2010

Duhai Cinta

 Duhai Cinta,....

Aku ingin menjadi budak mu, 
Atau Menjadi Keledai tunggangan
Tak peduli kemana kau bawaku 
Tak jua ku menanyakan tentang apapun

29 November 2010

Debaran Penantian

Diantara gulungan ombak, lipatan badai, 
Dzkir Awan, Mentari, Beburung, Pepohon, yang kian bertalu
Antara Tawa & Air Mata
Diantara Gelimang Harta, dan Rasa Lapar
atau Istana Congkak, dan derita  kolong langit

14 Februari 2010

Deskripsi Cinta By Jalaluddin Rumi taken from Masnavi

Kekasih sejati itu dibuktikan oleh rasa sakitnya hati;
Tidak ada penyakit yang ada seperti penyakit hati
Penyakit Pencinta berbeda dari semua penyakit;
Ruang cinta adalah misteri dari NYA.
Tetapi pada akhirnya ia ditarik kedalam RAJA cinta.
Kadang kala banyak kita menggambarkan dan menjelaskan cinta,
Ketika kita jatuh cinta kita malu tuk berkata-kata,
Penjelasan lidah menjadikan sebagian besar hal-hal menjadi jelas,
Tapi cinta tak dapat dijelaskan dengan lebih jelas.
Ketika pena ditorehkan untuk menulisnya,
Saat mencapai subjek cinta, itupun terbelah dua.
Ketika wacana menyentuh masalah cinta,
Pena patah dan kertas robek.
Alasan dalam menjelaskan tongkat itu cepat, bagai keledai dalam lumpur;
Sia-sia tetapi cinta itu sendiri dapat menjelaskan cinta dan kekasih!
Tidak ada, matahari dapat menampilkan matahari,
Jika Anda akan melihat itu ditampilkan, pada gilirannya tidak jauh dari itu.
Bayangan, memang, dapat menunjukkan kehadiran matahari,
Tapi hanya menampilkan cahaya terang hidup.
Bayangan menginduksi tidur, bak celoteh malam,
Tetapi ketika matahari muncul "rembulan terbelah"
Di dunia terdapat sia-sia begitu menakjubkan sebagai Matahari,
Tapi Matahari jiwa tidak menetapkan dan tidak memiliki kemarin
meskipun matahari bahan unik dan tunggal,
kita dapat membayangkan matahari serupa untuk itu.
Tapi matahari jiwa, di luar cakrawala ini,
tidak seperti terlihat daripadanya konkret atau abstrak.
Manakah ruang dalam konsepsi untuk esensi,
sehingga, Perumpamaan untuk NYA harus dibayangkan?

translate by E.H. Whinfield, re translate by Prof. Google

06 September 2009

SENANDUNG LARA

Dihujam belati sampai bersimbah darah

Itu kau alami tapi itu tak kau rasakan sebagai kepiluan

Atau mungkin dirimu tergilas hingga lorong nafasmu menyempit

Itu pun tak kau hiraukan sebagai luka

Namun luka akan terasa pedih ketika yang dihujam bukan mengenai tubuhmu

Karna tubuh menyembuh akan lebih cepat dari kau bayangkan

Ketika jiwa mu terlukai hingga tergerogot seluruh energimu itulah kelukaan

Hingga bahkan kau rasakan inilah akhir dari perjalanan itu

Ketika harapan membumbung keangkasa yang menjatuhkan mu dan menghempasmu

Itula kau rasakan  seluruh raga mu pun tak berdaya menopangnya

Hilangnya harapan adalah akhirat, akhir dari hidup

Jangan pernah berkubang dalam kelukaan dalam kelamaan meski itu sulit untuk kesembuhannya

Ketika itu menghempasmu bahkan kau terinjak karenanya

Yakinkan jiwa mu, bahwa Ia sedang memberikan kebijaksanaan yang tidak kau temukan ketika kau merengkuhnya

Karena kebijaksanaan  hadir dalam luka yang menghempas, jiwa yang tergilas

Dia adalah Guru yang tak kau ingin temui tapi kau harus menjadi muridnya

Jiwamu diajarnya menerima setumpuk ilmu, ilmu tentang dirimu sendiri yang tak kau kenal

Hingga kau benar2 mengenal dirimu, dan tidak tertipu oleh alam khayalmu

Dia adalah sesungguhnya madrasah

Bagaimana seharusnya kau Menjadi

ya karbala

18 Juli 2009

Menangislah! Matsnawi, Buku Kelima 65-149

Karena tangisan awan, taman pun tersenyum
Karena tangisan bayi, air susu pun mengalir
Pada suatu hari ketika bayi tahu cara, ia berkata
“Aku akan menangis agar perawat penyayang tiba”
Tidakkah kamu tahu bahwa Sang Perawat Agung
Tidak akan berikan susu jika kamu tidak meraung


Tuhan berfirman, “Menangislah sebanyak-banyaknya”
Dengarkan, anugrah Tuhan kan curahkan air susunya
Tangisan awan dan panas mentari
Adalah tiang dunia, rajutlah keduanya
Jika tak ada panas mentari dan tangisan awan
Mana mungkin bakal kembang semua badan
Mana mungkin musim silih berganti
Jika kemilau dan tangis ini berhenti


Mentari yang membakar dan awan yang menangis
Itulah yamg membuat dunia segar dan manis
Biarkan matahari kecerdasanmu terus-menerus terbakar
Biarkan matamu, seperti awan, kemilau karena airmata yang keluar
Menangislah seperti rengekan anak kecil, jangan makan rotimu
karena roti jasmanimu akan mengeringkan air ruhanimu
Ketika tubuhmu rimbun dengan dedaunan yang subur


Siang malam batang rohmu melepaskannya seperti musim gugur
Kerimbunan tubuhmu adalah kerontangan rohmu
Segeralah, jatuhkan tubuhmu, tumbuhkan rohmu!
Pinjami Tuhan, pinjamkan kerimbunan tubuhmu
Tukarkan dengan taman yang merkah dalam jiwamu
Berikan pinjaman, kurangi makanan badanmu

Biar tampaklah muka yang dulu tak terlihat matamu
Ketika badan mengeluarkan semua kotoran keji
Tuhan mengisinya dengan mutiara dan kesturi
Orang itu telah menukar kotoran dengan kesucian
Dari “Dia sucikan kamu” ia peroleh kenikmatan
Terjemahan: Jalaluddin Rakhmat

nangis

24 Juni 2009

Majemuk dalam Satu

Coba ku lulihati, coba kudengari, coba kuciumi, namun tak jua jumpa-Nya

Terlalu,.. ya terlalu,… terlampau ya terlampau

kemudian akibat itu, semua pun di persepsi menjadi-Nya

bahkan yang tak layak untuk nya,

bila ia sihitam maka sihitam ingin Ia sepertinya, jika Predator, Predator pun ingin Ia sepertinya.

tapi Terlalu, ya terlalu,.. terlampau yah terlampau,..

sesuatu yang tak kau bisa letakkan ukuran pada nya , kecuali hanya lah Cinta

Kemewujudan adalah cinta,.. bentuk nya transenden namun ia Imanen,..

JIka diversitas adalah Tajaliyat, sepertinya  jamak, sebenarnya ia itu Satu.

Ya,…

Benar,.. yang kau sedang rasakan itu,..

Ia adalah angin, gunung, rerumput , atau mutiara dibawah lautan bahkan angkasa, tapi Ia juga pikiran yang melintas dalam renungmu, yang membelai jiwamu.

ia ada dalam biara, gereja, surau2 kecil, dan kuil2, dimana pencintanya sedang merangkai sulaman untuk kekasihnya.

dalam setiap kontemplasi itu, setiap biji tasbih yang dipatrikan dalam kalbunya setiap lapis istananya pun sedang dibuatnya.

Setiap getar2, jiwamu didalamnya, maka setiap itu pula, sebuah hidangan lezat sedang kau nikmati, yang didapati setiap manusia, rerumput, atau gemintang, semua berputar dalam poros yang sama.

cinta 

Jika demikian, maka, apakah masih penting untuk bertengkar2?

atau mereka saling merasa bahwa ia dan kelompoknya saja lah yang dicinta-Nya?

Karena cinta tidak lagi membutuhkan simbol2,..

tungku yang meleburkan semuanya, tak dapat kau lihat lagi selain cahaya.

cinta adalah cinta sebuah rasa yang dengan nya nyawamu kau serahkan padanya.

17 April 2009

“Catatan Malam”

Aku ingin melihat wajah cinta,.......

Sayatan kerinduan melepuh

Laungan srigala malam pun merasakan kepedihan yang sama dalam kerinduan tak terperikan

Dalam setiap hembusan nafas dia mengayun dan menariknya

Siang dan malam silih berulang bak Irama yang sama dalam paduan suara

Akankan wajah cinta menampak, dalam kekeringan jiwa menantinya

Sebuah rasa yang datang entah menyembul dari mana itu

Bahkan rerumput rela terinjak-injak menyambut-Nya

Namun,..

Wajah cinta telah menyinari setiap sesuatu dalam jagat semesta

Kebutuhan akannya lah mengada setiap yang ada

Wahai wajah cinta

Tak kah kau lihat,.. gunung berabad-abad duduk bersimpuh-Mu

Atau Gelombang pasang Laut dalam rindu yang merobek-robek

Atau nyanyian malam saling bersimbat menyebut-Mu

Pada akhirnya ...

Menggelayut,..,.. sebentuk kerinduan

Tentang sebuah perjalanan yang merindukan keperaduan

Sebuah kata dari sang sufi”bagai seruling rejungkan nyanyian kerinduan tuk kembali ke rumpun bambu”,....

Palembang, 17 April 2009

 

D

15 April 2009

LABIRIN

Terjang,... terjanglah kerisauan
Kaki mengayuh kegalauan
Berjalan dalam labirin yang tak berketemuan
Namun perjalanan mesti diteruskan
Hingga dahaga mencabik-cabik kerongkong
Biarkanlah ia mengerang dan terus menelusur nya
Sampai terus ,..
Kaki patah, tangan terluka.,,,


Mengapa lorong ini tampak tak berujung
Perjalanan yang tak sampai
Ataukah jalan itu sendiri adalah takdir
Bagi anak adam tuk menelusurnya
Bagi hidupnya
Yang tak diketahuinya
Bahkan dari mulanya hingga akhirnya
Apakah anak adam memasuki lorong yang sama?
Ataukah mereka menelusur labirin nya sendiri?


Pertanyaan yang terus bergelayut sembari ditelusurinya jalannya
Hingga dedaunan hijau menguning kemudian layu dan mati
Tumbuh kembali dan bersemi bunga-bunga baru
Tetap saja pertanyaan itu bergelayut yang terlalu tinggi terengkuhkan

Wahai putra adam ,..
Apa yang kau cari?
Apa yang kau temui?
Semua kemudian kosong
Wahai putra adam
Kau dari mana?
Mau kemana?
Apa yang kau cari?
Apa yang temui?
Nafas kemudian semakin tersengal
Bahkan tinggal dua atau satu tarikan lagi
Coba tuk dibunuhnya semua penghalang jalan nafasnya

Hei,.. engkau
Mengapa kau halangi aku?
Bahkan labirin ini pun belum kutemukan ujungnya?


Hei putra adam!
Aku adalah dirimu!
Bahkan yang telah kau tinggalkan
Namun aku telah mendahuluimu, jawabnya
Ah engkau ,.... adalah kepalsuan
Semua telah ku bunuh mati ,...
Bahkan semua penghalang telah ku hunuskan pedang ku kepadanya
Tapi labirin ini tetap tak berujung,......
Wahai putra adam
Kau dari mana?
Mau kemana?
Apa yang kau cari?
Apa yang temui?
Kau mulai lagi,... rupanya!

afaq
Aku kan menginginkan menemui ujung labirin ini
Bahkan bila telah sampai di ujungnya,..
Kan ku hunuskan pula pedang ku kepadanya...
Namun kegalauan ,... kerisauan,..
Tetap berjalan di labirin tak berketemuan
Jika telah sampai kepada nya ....
Aku ingin menanyakannya,... kepadanya
Apakah aku sendiri menjalani labirin ini, atau kah tiap putra adam memiliki labirin nya sendiri?


Hei putra adam!
Aku adalah dirimu!
Bahkan yang telah kau tinggalkan
Namun aku telah mendahuluimu, jawabnya
Jawab aku,.... jawab aku,..... katanya sampai sengalan nafas menuju keakhirannya,.....

30 Oktober 2008

Berlabuh la,..........

bila telah menemukannya,...
kepastian yang tak berliput ragu,..
rindu berlari kejar-mengejar,.
karena tiada yang sempurna
cinta lah kemudian mensempurnakan
semakin kau hitung kelemahannya
semakin kau rasakan itulah kelebihannya
rengkuhlah setiap rindu dan bayangan
menempati ruang waktu sesungguhnya
ketika ketakutan keraguan
menjadi kekuatan dan keyakinan 
bukan, yang kau cari bukan yang sempurna
karena cinta saling menyempurnakan
ujung-ujung tali untuk dipertautkan
menjadi ikatan yang saling menguatkan
ketika tali ditambatkan
mata angin kan membawanya
berlayar,.. jauh,....
sampai bila kapal beranak sekoci
sekoci menjadi kapal dan berlayar kembali
begitulah semua,..
cinta menuntun manusia menjadi sempurna,...

28 Oktober 2008

Dari Pemuda Untuk Bunda dari Sumpah Serapah Pemuda

bunda tampak kian berurai duka
dikerentaannya,...
tanahnya,bumi nya, airnya,... udara yang dihisapnya
terhutang ,........ hingga tak tersisa satu pohon tuk membuat kursi goyang,...
sumur pun selama ini bagi kehausannya,.. telah menjadi plastik botol yang ditukar dengan lembaran rupiah,...
anak-pinak mu bunda,....
telah menjual segalanya,....
bahkan bila mungkin rahim mu pun dalam rencana ditukarnya,..................

indonesia bendera

Peleburan Cahaya

kutak bermaksud membakarnya,..
namun aku ingin lebur di dalamnya,..
karena kau dari dan akan lebur dalam cahaya,....
bukan kah semuanya adalah ketiadaan,... kecuali cahaya
tak kan ada sesuatu yang dapat kucerap tanpanya,..
bahkan kutakkan mengenal bahkan diriku sendiri,.....
bila suatu masa itu tiba ,... saat cahaya semakin terbakar dan membakar
aku ingin didalamnya merasakan pertemuan dalam peleburan
hingga tak diketemukan sesuatu kembali yang tampak,..
kecuali persenyawaan abadi didalam tungku sebenarnya,...........

26 Oktober 2008

Berbasuh Cinta

bila sampai tuk terpaut,..
hilanglah keraguan,. hampa,... gulana
namun sampai bila menemuinya,...
smua padu menjadi keceriaan,..
hingga jiwa menjadi lebur dalamnya
yang kau tahu kau diliputinya
bagai disiram butiran embun, hingga segala kerontang menjadi danau-danau cinta
bahkan tumbuh berkembang semua flora, bersenandung, bak dzikir jutaan malaikat,...
manusia dituntun tuk menemukannya
mulanya dari dirinya sendiri
hingga cinta menjadi madu, pusat dan sumber kehidupan,.....

cinta

16 September 2008

Kerja By: Kahlil Gibran

kerja Kerja

Seorang peladang datang bertanya:
Berilah penjelasan pada kami soal kerja.
Maka demikianlah bunyi jawabnya:
Kau bekerja supaya langkahmu seiring irama bumi, serta perjalanan roh jagad ini.

Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim.
Serta keluar dari barisan kehidupan sendiri.
Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya, menuju keabadian masa.

Bila bekerja engkau ibarat sepucuk seruling, lewat jantungnya bisikan sang waktu menjelma lagu.
Siapa mau menjadi ilalang dungu dan bisu, pabila semesta raya melagukan gita bersama?

Selama ini kau dengar orang berkata, bahwa kerja adalah kutukan, dan susah payah merupakan nasib, takdir suratan.
Tetapi aku berkata kepadamu bahwa bila kau bekerja, engkau memenuhi sebagian cita-cita bumi yang tertinggi.

Yang tersurat untukmu, ketika cita-cita itu terjelma.
Dengan selalu menyibukkan diri dalam kerja, hakekatnya engkau mencintai kehidupan.
Mencintai kehidupan dengan bekerja, adalah menyelami rahasia hidup yang paling dalam.

Namun pabila dalam derita kausebut kelahiran sebagai siksa, dan pencarian nafkah sebuah kutukan yang tercoreng di kening,
Maka aku berkata bahwa tiada lain dari cucuran keringat jua, yang dapat membasuh suratan nasib manusia.

Selama ini kaudengar orang berkata pula, bahwa hidup adalah kegelapan, dan dalam keletihanmu kautirukan kata-kata mereka yang lelah.

Namun aku berkata bahwa hidup memang kegelapan, kecuali jika ada dorongan.

Dan semua dorongan buta belaka, kecuali jika ada pengetahuan.
Dan segala pengetahuan adalah hampa, kecuali jika ada pekerjaan.
Dan segenap pekerjaan adalah sia-sia, kecuali jika ada kecintaan.

Jikalau kau bekerja dengan rasa cinta, engkau menyatukan dirimu dengan dirimu

Kausatukan dirimu dengan orang lain, dan sebaliknya, serta kaudekatkan dirimu kepada Tuhan.

Dan apakah yang dinamakan bekerja dengan rasa cinta?

Sarung Tenun Pak Bupati

Laksana menenun kain dengan benang yag ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmulah yang akan mengenakan kain itu.
Bagai membangun rumah dengan penuh kesayangan, seolah-olah kekasihmulah yang akan mendiaminya di masa depan.

Seperti menyebar benih dengan kemesraan, dan memungut panen dengan kegirangan, seolah-olah kekasihmulah yang akan makan buahnya kemudian.

Paterikan corakmu pada semua benda, dengan nafas dari semangatmu pribadi.

Ketahuilah bahwa semua roh suci sedang berdiri mengelilingimu, memperhatikan dan mengawasi serta memberi restu.
Seringkali kudengar engkau berkata-kata, laksana menggumam dalam mimpi,

"Dia yang bekerja dengan bahan pualam, dan menemukan di dalamnya bentuk jiwanya sendiri lebih tinggi martabatnya daripada dia si pembajak sawah".

"Dan dia yang menangkap pelangi di langit untuk dilukis warnanya, menyerupai citra manusia di atas kain, derajatnya lebih mulia dari dia si pembuat sandal kita".

Namun aku berkata tidak di dalam tidur melainkan di kala jaga sepenuhnya, ketika matahari tinggi.
Bahwa angin berbisik tidak lebih mesra di pohon jati raksasa daripada di rerumputan yang paling kecil dan tanpa arti.

Dan hanya dialah sungguh besar, yang menggubah suara angin, menjadi sebuah simponi yang makin agung karena kasih-sayangnya.
Kerja adalah cinta yang mengejawantah.

Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan, maka lebih baiklah jika engkau meninggalkannya.
Lalu mengambil tempat di depan gapura kuil, meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan sukacita.

Sebab bila kau memasak roti dengan rasa tertekan, maka pahitlah jadinya dan setengah mengenyangkan.
Bilamana kau menggerutu ketika memeras anggur, gerutu itu meracuni air anggur.

Dan walaupun kau menyanyi dengan suara bidadari, namun hatimu tiada menyukainya.

Maka tertutuplah telinga manusia dari segala bunyi-bunyian siang dan suara malam hari

gibran

14 September 2008

Cahaya Syurga

Balon Pentil02

waktu melintas masa lampaui bayang
tiap detiknya adalah menuju kesempurnaanmu,..
hingga ku tahu bahwa kau manusia,...

yang kuasuh tak dapat kumiliki
induk semang,... hanya tersimpan harapan,..
untuk dikau ya,... untuk dikau
tapi dikau adalah manusia ,....
yang tuhan pun membebaskanmu untuk menjadi dirimu,...
seperti juga adam dan hawa memilih dunia untuk kebebasan demi sebuah tanggung jawab manusia
buaian, pangkuan,.. belaian, bahkan tetek ibumu pun  lepas dari nya,...
induk semangmu,... wahai anak adam,......
anak dan orang tua hanya sebutan melekat oleh pertalian darah saja,...
tapi kau bukan milik kami,.... kau milik mu sendiri,......

yukya2

bila telah tiba masanya
setiap aliran nafasmu hanya dikau lah yang bertanggung jawab terhadapnya,...
namun induk semangmu,....
hanya memiliki asa ,......
jadilah wahai anakku,....
manusia yang bebas untuk mengemban tanggung jawab manusia,....

tak ada yang lebih mulia dari cinta,

kau dilahirkan oleh dan karena cinta,..
kau diciptakan untuk melintasi medan sejarahmu sendiri,...
kau, masa, untuk zamanmu sendiri

namun hanya satu harapan itu ,

kau dilahirkan oleh cinta, karena cinta dan untuk cinta,........

dengan dan karenanya kau kan menjadi cahaya syuarga,.....

Suara Parau Mengerang yang Tersesat di Rimba Jiwanya Sendiri

sendiri 

tiap waktu berlalu dalam hariku, terseret dalam gelombang dunia.
ada tawa, dan ada juga tangis bagai sebuah bongkahan batu, terdiam, aku tak tahu dimana aku dan siapa aku
aku ingin terbang dan mi'raj menembus ruang waktu yang membatasiku dari kekasihku.
menghilangkan semua keresahan yang tak kunjung padam sampai pada pertemuan itu
hingga tak kutemui lagi kegelisahanku yang tak jua mereda
bagai daun tersaput angin, melambai terombang-ambing dari gelombang masa.
tapi kutakbisa berlari, siapa aku dan dimana aku pun tak tahu,..
wahai yang mengetahui segala, berikan aku jawaban yang memuaskan dahagaku,......
hingga air mataku jatuh kebumi menumbuhkan flora yang harum berkembang
buaikan aku dalam kebahagiaan yang tiada tara,.
aku merindu, tapi aku menjauh,..
biarlah semua menjadi bagian dari derita anak manusia yang ada pada setiap zaman dan peradaban
diri menjadi budak bagi gelombang dunia yang menggulung setiap orang didalamnya.........

sendiri2

19 Agustus 2008

Puisi D.N. Aidit (Puing Puing Rakyat)


Puing-puing rakyat
Rakjat dimana kau?
Kutjari dalam ribuan luka
Kuhempas badai mentjari lukamu
Rakjat dimana kau...
Deritamu siksa aku dalam djuangku
Biarlah aku ditjabik jutaan harimau agar kau bisa tegak berdiri
Bukan di tindas dan tertekuk dalam kehinaan
Rakjat tjintaku padamu
Ada pada gubuk-gubuk liar
Dan ilalang tanpa nama
Karena kaulah tjintaku tak akan mati
Akulah perindumu yang digotong oleh djoang
Di bantu oleh ketidakberdajaan
Akulah tjintamu
Jang aku inginken di tiap malam gelap
Akan adanja perubahan
Akan adanja perubahan.........



Djakarta, 2 Januari 1954
DN Aidit