Ali disisi Rasulullah Seperti Musa dg Harun hanya Tak ada Nabi Lagi Setelahnya

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

14 November 2010

AQIDAH SYIAH IV HARI AKHIR & KEHIDUPAN SETELAH MATI (AYATULLAH UZHMA ANWAR MAKARIM SYIRAZI)

34. Tidak Ada Arti Kehidupan Tanpa Hari Akhir

Syi’ah meyakini bahwa suatu hari nanti seluruh umat manusia akan dibangkitkan dari kubur dan dilakukan hisab atau evaluasi atas perbuatan-perbuatan mereka di dunia. Yang berbuat baik akan mendapatkan sorga, sementara yang berbuat keburukan dicernplun.gkan ke nereka.
Allah, tiada Tuhari selain-Nya. Ia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak dapat diragukan kedatangannya. (QS. 4:87)
Adapnn orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan duniawi, neraka adalah tempat tingga/nya, sedangkan yang takut pada kebesaran Tuharinya dan mencegah dirinya dari mengikuti hawa nafsu, sorga adalah tempat tinggalnya. (QS. 79:37-41)
Syi’ah meyakini bahwa dunia ini adalah jembatan yang harus dilewati oleh manusia untuk sampai ke tempatnya yang abadi. Atau dengan kata lain, dunia adalah sekolah, pasar, atau ladang bagi hari akhir. Iniam ‘Ali as berkata tentang dunia:
Sesungguhnya dunia adalah kampung kebenaran bagi yang benar dalamnya...,   kampung kekayaan bagi yang membekali dirinya, kampung belajar bagi yang mengambil pelajaran, masjid kekasih Allah, mushalla para malaikat Allah, tempat turunnya wahyu, dan tempat berniaganya kekasih-kekasih Allah. (Nahjul-balaghah, mutiara-mutiara pendek no. 131)

AQIDAH SYIAH III "ALQURAN & KITAB SUCI LAINNYA" (AYATULLAH ANWAR MAKARIM SYIRAZI)

24. Falsafah Turunnya Kitab Samawi
Syi'ah meyakini bahwa Allah Swt telah menurunkan sejumlah kitab samawi untuk menuntun umat manusia ke jalan yang lurus, antara lain:Sahifab Ibrahim dan Nuh, Taurat, Injil, dan al-Quran, yang merupakan kitab paiing sempurna. Jika kitab-kitab ini tidak turun, maka manusia akan tersesat dalam perjalanannya menuju ma'rifatullah dan dalam beribadah kepada-Nya. Manusia juga akan kehilangan dasar-dasar taqwa, akhlak, pendidikan, dan aturan-aturan sosial yang dibutuhkannya.
Kitab-kitab samawi ini menyirami rohani manusia bagaikan hujan yang mengguyur bumi dan menumbuhkan di dalamnya bibit-bibit taqwa, akhlak, ma'rifatullah, pengetahuan, dan al-hikmah.
Rasul beriman atas apa yang telah diturunkan Tuhannya kepadanya. Demikian pula orang-orang beriman. Mereka semuanya beriman pada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para utusan-Nya. (QS. 2:285)

AQIDAH SYIAH II "NUBUWWAH" (AYATULLAH UZHMA ANWAR MAKARIM SYIRAZI)


KENABIAN

12. Falsafah Pengutusan Nabi
Syi'ah meyakini bahwa tujuan Allah mengutus para nabi dan rasul ialah untuk membimbing umat manusia dan menuntun mereka mencapai kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan abadi. Seandainya para nabi itu tidak diutus maka tujuan penciptaan manusia tidak akan tercapai dan manusia akan tenggelam dalam kesesatan.(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa kabar gembira dan peringatan supaya manusia tidak punya alasan (atas penyimpangan-penyimpangannya) terhadap Allah sesudah diutusnya para rasul (QS. 4:165)
Syi'ah meyakini bahwa di antara para rasul itu ada "ulul-azmi" atau lima rasul pembawa syariat dan kitab suci yang baru, yaitu, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan terakhir Nabi Muhammad saw.
Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian daripara nabi dan dari darimu serta Nuh, Ihrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat. (QS. 33:7)

AQIDAH SYIAH "TAUHID & MA'RIFATULLAH (AYATULLAH ANWAR MAKARIM SYIRAZI)


MA’RIFATULLAH DAN TAUHID


1. Adanya Yang Mahakuasa Mahatinggi
Syi'ah meyakini bahwa Allan SWT adalah pencipta alam semesta. Keagungan ilmu dan kekuasaan-Nya tampak dengan jelas pada seluruh jagad raya, dalam diri rnanusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, bintang-bintang di langit, alam metafisik nan mahatinggi, dan di mana saja.
Syi'ah meyakini bahwa semakin kita mengamati rahasia alam semesta, maka kita akan semakin rnenyadari kebesaran, keluasan ilmu dan kekuasaan-Nya. Dan, semakin ilmu pengeta huan manusia berkembang, maka pintu-pintu baru ilmu dan hikmah-Nya semakin terbuka bagi kita sehingga pikiran kita semakin luas. Dengan demikian, kecintaan dan kedekatan kita kepada-Nya semakin bertambah, dan kita akan diliputi oleh cahaya jalâl dan jamâl-Nya.

TAKDIR MANUSIA BAG.II OLEH MURTHADA MUTHAHHARI

BAGIAN KEDUA

Sistem Kausalitas Umum

Qadha dan Qadar

Qada & Qadhar
Qadha berarti penetapan hukum, atau pemutusan dan penghakiman sesuatu. Seorang qadhi (hakim), dinamakan demikian sebab ia bertugas atau bertindak menghakimi dan memutuskan perkara antara kedua orang yang bersengketa di muka pengadilan. Al-Quran al-Karim menggunakan kata ini dengan menisbahkannya, kadang-kadang kepada Allah dan kadang-kadang kepada manusia, untuk memisahkan dua pokok bahasan dalam pembicaraan dan juga untuk memisahkan antara dua penciptaan di alam ini.

Qadar berarti kadar dan ukuran tertentu. Kata ini juga seringkali digunakan dalam Al-Quran untuk menunjukkan arti ini.
Kejadian-kejadian alam, ditinjau dari sudut keberadaannya di bawah pengawasan dan kehendak Allah yang pasti, dapat dikelompokkan ke dalam qadha Ilahi, dan dari sudut sifatnya yang terbatas pada ukuran dan kadar tertentu serta pada kedudukannya dalam ruang dan waktu, dapat dikelompokkan ke dalain qadar Ilahi.

13 November 2010

TAKDIR MANUSIA BAG.I OLEH MURTHADA MUTHAHHARI

  
Tuhan Telah Mati (Qadariyah)
BAGIAN PERTAMA
Pengaruh Takdir Atas Manusia
Perasaan Menakutkan
Tidak ada sesuatu yang lebih mengganggu dan menyakitkan jiwa seseorang daripada perasaan bahwa ia hidup di bawah bayang-bayang sebuah kekuasaan absolut yang amat kuat dan mencengkram segala sesuatu dalam kehidupannya, serta mengarahkannya ke mana saja sesuai dengan kehendaknya. Karena, seperti dikatakan orang, kemerdekaan adalah nikmat yang paling mahal harganya, sedangkan perasaan terjajah adalah rasa sakit yang paling memedihkan. Dengan begitu manusia merasa dirinya terinjak-terinjak dan kehendaknya tercabik-cabik oleh kekuatan absolut yang menjajahnya itu. Tak ubahnya seperti seekor domba yang ditarik oleh sang penggembala yang menguasai tidur, makan, hidup dan matinya. Hal ini akan menimbulkan perasaan bagai bara api yang menyala-nyala dalam lubuk hatinya serta rasa sakit yang tak terhingga, menyerupai penderitaan seseorang yang menyerah pasrah dalam cengkraman seekor singa yang garang dan buas, setelah menyadari bahwa tidak ada lagi jalan keselamatan baginya dari cengkeraman kuat yang sepenuhnya mengendalikan dirinya itu.

08 September 2008

Kibr awal Kekafiran

Kafir,....
Kafir menjadi sentral pembahasan teologi islam. hal ini menjadi pembeda hamba tuhan sesungguhnya atau pura2 menjadi hamba tuhan.
kafir dekat dengan kata kufur yaitu secara sederhana dapat diartikan sebagai ingkar atau pengingkaran. sedangkan kufur sendiri menurut Imam Khomeini berakar dari sifat kibr atau sombong, dan kata mutakabbir disematkan kepada seseorang yang sombong. Kesombongan inilah juga yang mengakibatkan tergelincirnya Iblis dari syurga allah swt dan mendapatkan laknatnya. Iblis karena kesombongan nya, yang terbuat dari api, harus bersujud kepada Adam ketika adam diciptakan dari tanah lempung yang kotor dan bau.

dari definisi awal tadi paling tidak dapat disimpulkan, iblis sebenarnya mengakui ketinggian derajat manusia melalui perintah allah untuk bersujud kepada manusia, namun iblis dengan kesombongannya dia mengingkari kebenaran tersebut.

Kesombongan ini pulalah menjadi puncak keburukan ahlak. saking buruknya sifat sombong ini hadis nabi" tidak akan mencium bau syuarga bila didalam diri seseorang masih tertinggal kesombongan walau sebesar debu".

kesombongan pulalah manusia berpotensi mengingkari setiap kebenaran. kesombongan bukan saja membuat manusia dapat menjadi zalim bahkan dengan kesombongan pulalah manusia bisa menentang dan menantang setiap hikmah, kebenaran dan mengingkarinya. Contoh yang paling panjang dari cerita kesombongan yang berakhir dengan kekafiran adalah FIraun. Alquran menjelaskan dengan sangat jelas bagaimana kesombongan firaun karena absolutnya kekuasaannya sehingga tak ada satu kekuatan pun pada zamannya tersebut yang mampu melampaui kehebatannya. bahkan dalam berbagai cerita Firaun mampu mencabut nyawa seseorang seketika.

akhirnya firaun menjadi sombong, segala logika, rasionalitas, kemudian melebur dalam kesombongannya. dengan bukti2 yang sangat nyata sekalipun dia tetap mengingkari kebenaran walaupun barang kali dirinya sendiri tak bisa menolak kebenaran melalui bukti2 yang di bawa oleh musa as kebenaran yang sangat nyata, menjadi hujjah atas eksistensi tuhan.

firaun dengan kesombongannya tidak ingin disaingi, yang akan menjatuhkan kekuatan dan kekuasaannya bila ada sesuatu yang lebih kuat dari dirinya. akhirnya tentu saja dia menjadi sangat zalim, untuk membuktikan kehebatannya dia membunuh semua lelaki dari bani israil. sebagai bukti bahwa hanya dia saja yang bisa mencabut nyawa manusia. kesombongan pulalah membuat orang menjadi sangat zalim menegasikan setiap sesuatu yang lebih hebat dari dirinya.

akhirnya firaun menantang dan mengingkari tuhan, nabi dan hari pembalasan.

dalam akidahyang diterima semua agama sebenarnya kafir adalah pengingkaran terhadap
1. pengingkaran allah sebagai penguasa tunggal jagat semesta.
2. pengingkaran terhadap hujjah2 yang membuktikan eksistensi tuhan yaitu pengingkaran nabi2 allah.
3. pengingkaran terhadap adanya hari pembalasan.

begitu pun quraysi mekkah, adalah masyarakat/kelompok sosial yang kibr, atau takabbur, mereka mengingkari semua apa yang dibawa oleh Muhammad Saw.

kesombongan lah yang membuat suatu kelompok masyarakat merasa lebih baik dari yang lain, dengan demikian kelompok yang dianggap lebih rendah untuk dikuasai dan melayani kehendak kelompok sosial yang lebih tinggi.

kecenderungan pada kesombongan, telah dicatat oleh sejarah menjadi sumber kehancuran peradaban manusia. Hitler dengan kesombongannya, menganggap hanya dirinya dan ras nya sajalah yang paling berhak mengatur peradaban manusia, siapapun yang menentang teori hitler tersebut harus diperangi dan di musnahkan, maka bani israil yang menjadi rivalnya menjadi korban hitler.

maka kesombongan pada puncaknya bukan saja menjadi pengingkaran terhadap tuhan, puncak kesombongan akan menjadikan manusia merasa dirinya tuhan sesungguhnya, tidak ada kekuatan lain yang lebih kuat dan dominan dari dirinya.

maka dari penjelasan diatas saya meyakini, bahwa seluruh penganut agama yang tawadhu' lawan dari kibr akan siap menerima kebenaran. kerendahatian, dengan sendirinya mengakui dan mensaksikan bahwa ada kekuatan tunggal yang menciptakan alam raya ini, yaitu tuhan yang maha esa. sebagai manifestasi dari pengakuan tersebut, tentu saja akan mengakui bahwa ada orang-orang terpilih wakil tuhan dimuka bumi yang akan membimbing manusia menuju tuhan. karena sifat tawadhu' juga manusia manusia secara naluriah, akan mengakui bahwa ada alam lain setelah alam ini yang dipersembahkan oleh tuhan bagi mempertanggung jawabkan segala perilaku manusia didalamnya.

dari penjelasan tersebut, maka sumber kekafiran adalah sifat kibr/sombong yang mengakibatkan kekufuran atau pengingkaran terhadap kebenaran walaupun hujjah atau bukti kebenaran itu telah sangat jelas dan sangat nyata, karena dengan kesombongannya menjadi hijab dirinya. dan saya juga meyakini bahwa kekafiran itu adalah simbol moral atau akhlak yaitu berakar dari sombong.



إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang yahudi, orang-orang nasrani, dan orang-orang shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada allah, dan hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (2:62)

ayat diatas juga menjadi penjelas tuhan bahwa setiap manusia apapun agamanya berpotensi untuk mendapatkan keselamatan pada hari pembalasan nanti, dengan syarat, mereka beriman kepada allah, beramal saleh, dan beriman kepada hari akhir.

definisi kafir yang disematkan kepada non muslim alangkah baiknya kita kaji kembali, sehingga terminologi tersebut tidak membawa kita pada penyeragaman setiap orang pada penganut agama selain islam. yang akibatnya kita juga tumbuh benih-benih ashabiyah yang juga dekat dengan kesombongan, yang pada akhirnya muslim menjadi begitu eksklusif dan menganggap non muslim sebagai kafir dan tempatnya lah dineraka.

tidak mesti penganut agama lain tidak bertauhid. bukankah tauhid itu mengakui adanya penguasa dan pemilik tunggal yang menciptakan jagat semesta ini.

kekafiran yang disematkan kepada non muslim hanyalah ilusi dan kesemuan keyakinan.


Dikeluarkan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Al-Suddi. Ia berkata: Orang-orang Islam bertemu dengan orang-orang Yahudi dan Nashara. Orang Yahudi berkata kepada orang Islam: Kami lebih baik dari kalian. Agama kami sebelum agama kalian dan Kitab kami sebelum kitab kalian. Nabi kami sebelum Nabi kalian. Kami mengikuti agama Ibrahim. Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi. Berkata juga orang Nashara seperti itu. Maka berkatalah orang Islam: Kitab kami sesudah kitab kalian, Nabi kami sesudah Nabi kalian, dan agama kami sesudah agama kalian. Kalian telah diperintahkan untuk mengikuti kami dan meninggalkan urusan kalian. Kami lebih baik dari kalian.Kami berada pada agama Ibrahim, Ismail, dan Ishaq. Tidak akan masuk surga kecuali orang yang memeluk agama kami. Allah menolak perkataan mereka dan berfirman: Bukanlah angan-angan kamu dan bukan juga angan-anga n Ahli Kitab… (Al-Durr al-Mantsur, 2:6

saya meyakini semua penganut agama berpotensi untuk mendapatkan keselamatan, jika akhlak mereka mulia, cerminan dari kebertuhanan agamanya. karena ketinggian agama seseorang tercerminan dari ketinggian akhlak nya. bukankah tuhan berfirman bahwa muhammad diturunkan untuk memperbaiki ahklak yang terpuji. karena kesempurnaan kebertuhanan muhammad tercermin akhlak nya yang begitu sempurna berakhlak dalam akhlak tuhan. cerminan penghambaan yang paripurna

24 Agustus 2008

Kekafiran Label Moral Apa Label Akidah????


Kafir, ya tentang kekafiran.
Sepanjang yang dipelajari pada pendidikan formal di negeri ini bahkan didunia Islam, Kafir sering kali disematkan kepada kelompok masyarakat yang KTP nya tidak agama Islam.

Kafir kemudian sangat penting bahkan menjadi sentral dalam bahasan agama adalah karena ketika seseorang telah diberi stigma kafir dia adalah penghuni neraka berdasarkan sebagian penganut islam tertentu. Bahkan adalah musuh bagi agama ini.

Berdasarkan pemahaman Islam kelompok ini Tuhan sepertinya sangat memaksa orang masuk dalam islam dalam hal ini bersyahadat sehingga kemudian orang tersebut ketika dewasa didalam KTPnya tertulis agama Islam.

Namun yang sering menjadi pertanyaan adalah, Apakah Tuhan begitu Eksklusif? Hanya dimiliki oleh umat tertentu seperti Islam, Kristen, Yahudi, sehingga yang bukan dari bagian itu adalah Kafir?

Atau pertanyaan lain yang sering mengganggu, mengapa Tuhan meniupkan zatnya yang tidak diberikannnya kepada mahluknya yang lain yaitu Ruh, dan Akal? Bukankah akal yang diangurahkan Tuhan kepada mahluknya manusia untuk mengetahui kebenaran hakiki?

Pada setiap masyarakat manapun, umat manusia membenarkan bahwa membunuh, menipu, menzalimi, dan segala perilaku negatif yang dapat perusak sistem sosial yang eksis adalah kejahatan? Yang kemudian diakui secara universal seluruh peradaban manusia.

Atau pertanyaan lain, jika benar keselamatan hanya milik Islam atau Agama samawi lainnya, mengapa seluruh Nabi diturunkan di Timur Tengah, sedangkan peradaban manusia eksis tidak hanya di arab? Bukankah bumi juga di isi oleh Asia, Aztek, Aborigin, Indian, dan lainnya? Yang sampai nabi terakhir pun kitab suci tidak menjelaskan nabi hadir ditempat2 tersebut?

Atau mungkin pertanyaan yang lebih ekstrim mungkin, mengapa tuhan hanya ingin menyelamatkan orang2 dijazirah arab? Bukankah tuhan milik seluruh umat manusia, termasuk alam semesta ini adalah mahluk Tuhan?

Jika kekafiran adalah simbol akidah, maka gugur semua nilai kebenaran agama, karena nilai kebenaran universal akan tidak bernilai di Mata Tuhan. Sebagai contoh, bila seseorang melakukan pembunuhan terhadap manusia yanng lain apa lagi orang tersebut berbeda agama dengan nya maka pembunuhan tersebut menjadi sah dan mendapatkan pengampunan dari tuhan. Dan sebaliknya jika seseorang melakukan kebaikan yang tak berhingga namun dia tidak masuk dalam lingkaran agama samawi maka tidak akan bernilai dimata tuhan sebagai contoh mungkin Mahatma Ghandi. Hal ini tentu saja akan merusak tatanan nilai yang telah dibangun tentu saja mengakibatkan perbuatan dosa dan pahala menjadi tidak dapat ditegakkan dengan sesungguhnya. Sehingga kekerasan, kekejian,kezaliman, perampasan hak hidup manusia menjadi sah bila atas itu dilakukan oleh Islam, Kristen, dan Yahudi dalam rangka memerangi orang kafir.

Definisi kafir dalam model ini menurut saya adalah nilai yang dibawa oleh perang salib yang masih saja menjadi nilai bagi penganut agama islam. Sehingga seseorang yang dianggap kafir mereka yang bukan beragama islam.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang yahudi, orang-orang nasrani, dan orang-orang shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada allah, dan hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (2:62)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَىمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَا لِحًا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang yahudi, shabiin, orang-orang nasrani dan orang siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman dan beramal shaleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (5:69)

Dikeluarkan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Al-Suddi. Ia berkata: Orang-orang Islam bertemu dengan orang-orang Yahudi dan Nashara. Orang Yahudi berkata kepada orang Islam: Kami lebih baik dari kalian. Agama kami sebelum agama kalian dan Kitab kami sebelum kitab kalian. Nabi kami sebelum Nabi kalian. Kami mengikuti agama Ibrahim. Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi. Berkata juga orang Nashara seperti itu. Maka berkatalah orang Islam: Kitab kami sesudah kitab kalian, Nabi kami sesudah Nabi kalian, dan agama kami sesudah agama kalian. Kalian telah diperintahkan untuk mengikuti kami dan meninggalkan urusan kalian. Kami lebih baik dari kalian.Kami berada pada agama Ibrahim, Ismail, dan Ishaq. Tidak akan masuk surga kecuali orang yang memeluk agama kami. Allah menolak perkataan mereka dan berfirman: Bukanlah angan-angan kamu dan bukan juga angan-anga n Ahli Kitab… (Al-Durr al-Mantsur, 2:6

Ayat diatas menegaskan bahwa hanya angan-angan orang Islam, Kristen, dan Yahudi sajalah bahwa hanya kelompok mereka saja yang selamat pada hari pembalasan. Tuhan akan memberikan keselamatan kepada masyarakat yang berketuhanan dan berbuat kebaikan dan beramal shaleh, bahwa kebenaran adalah universal yang terdapat dalam hati sanubari manusia, dan ini melekat dengan kemanusiaan manusia. Sehingga angan-angan bahwa islam atau agama samawi lainnya yang hanya akan mendapatkan keselamatan adalah ilusi. Tuhan juga menegaskan dalam ayat ini bahwa tuhan adalah milik seluruh umat manusia bahkan kelompok yang tidak terdaftar dalam KTP sekalipun agamanya.

Tuhan mengakui dan menerima setiap kebaikan dan amal shaleh , namun mengapa pemeluk agama begitu eksklusif menganggap mereka lah yang paling benar sehingga kebencian dan sinisme terhadap pemeluk agama yang berbeda berkembang begitu dahsyat. Keberagaman atau Pluralitas adalah kenyataan sejarah peradaban manusia yang mestinya harus diterima dengan lapang dada dan seharusnya menjadi kekayaan serta bukti bahwa tuhan benar-benar ada, dia telah menurunkan nabi-nabi pada setiap peradaban agar masyarakat tersebut tidak tersesat dan membesarkannya melalui pemujaaan yang berbeda-beda bukankah kebenaran universal terdapat pada setiap agama.

Kekafiran yang selama ini distigmakan selain Islam mestinya harus dikaji kembali, apakah Kafir adalah simbol akidah atau simbol ahlak. Sepanjang kedatangan agama dan nabi-nabi adalah mengajarkan ahlak yang sempurna sehingga manusia mampu berinteraksi dan membangun sistem sosial yang harmonis dan berkeadilan.
Musuh agama bukanlah agama lainnya, yang sampai hari ini masih terus berlanjut, sisa-sisa warisan perang salib.

Kekafiran juga dalam alQuran tidak disematkan kepada Kristen, Yahudi, maupun majusi tapi kafir disematkan pada suku Quraisy mekah yang selanjutnya sering disebut dengan kafir quraisy. Yaitu suatu sistem sosial yang zalim dan jahiliah dimana interaksi didalam masyarakatnya yang jauh lebih keji dari barbar. Ahlak quraisy yang randah lah kemudian disebut tuhan dengan kekafiran.

Kita mengakui semua bahwa peradaban jahiliah adalah seburuk-buruknya peradaban manusia. Simbol kesombongan, keserakahan, feodalisme, perbudakan, kezaliman menjadi ciri dari masyarakatnya. Maka bila penganut agama lain selain islam tidaklah harusnya diidentifikasikan sebagai kafir. Karena kekafiran adalah simbol ahlak atau bukan simbol akidah. Dan tuhan pun mengakui bahwa setiap agama akan diberikan keselamatan bila bertuhan dan beramal shaleh. Gugurlah keagamaan seseorang bila dia meskipun islam jika berperilaku zalim dan kafir seperti masyarakat kafir quraisy.

Aliran memisahkan ahlak dari agama adalah penganut filsafat fatalisme atau murji’ah yang berkembang pada zaman dinasti umayah. Akibat ketakutan kepada penguasa bani umayah yang sangat zalim serta hegemoni kekuasaannya yang sangat kuat sehingga aliran ini kemudian berkembang luas yaitu aliran yang mengatakan bahwa seburuk-buruknya perilaku manusia bila dia muslim, maka masih berkemungkinan masuk syurga.

Timbul pertanyaan yang sering mengganggu saya H.M Soeharto apakah masuk syurga, dengan apa yang telah pembantaian lebih dari 500 ribu nyawa manusia? Ataukah seorang rahib seperti Mahatma Ghandi yang berjasa besar sebagai pembebas India dan insipirator bagi perjuangan perlawanan tanpa kekerasan hanya karena dia bukan islam atau agama samawi lainnya?

Jika pendapat islam yang menurut asumsi bahwa agama berpisah dari ahlaknya, maka gugutlah pula teori keadilan tuhan.

Saya berkeyakinan bahwa ayat diatas jawaban bagi orang-orang yang beramal shaleh meskipun bukan islam atau pun masuk dalam salah satu agama samawi.

Palembang, 24 agustus 2008